oleh

Undang Paus ke Sulut Domain Kepala Negara

KETUA Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Utara (Sulut), Pdt Lucky Rumopa STh perlu meluruskan terkait pemberitaan yang menyebutkan, Panitia Paskah Nasional 2020 bakal mengundang Paus Fransiskus ke Sulut.

Menurut Rumopa, kapasitas mengundang Paus bukan domain panitia paskah. “Paus itu beda dengan tokoh agama dunia, sebab selain tokoh agama dunia dan pemimpin Umat Katolik, Paus melekat sebagai kepala pemerintahan (Vatican),” ungkap Rumopa kepada Komentaren, Kamis (23/01).

Karena kapasitasnya seorang kepala Negara, maka lanjut Rumopa, untuk mengundang Paus ke Indonesia dalam hal ini ke Sulut, harus Presiden RI selaku kepala Negara. “Jadi mengundang Paus via presiden. Dan FKUB sedang menjajaki lewat jalur Sekretaris Negara untuk itu. Keliru kalau dibilang akan diundang panitia paskah,” jelasnya.

 Dia juga menyampaikan, dalam menghadirkan tokoh-tokoh agama dunia, itu terkait dengan kegiatan kerukunan internasional. Dimana Sulut menjadi tuan rumah Pekan Kerukunan International yang mengangkat tema “Pilgrimage of Justice and Peace”.

Ketika ditanyai kemungkinan Paus hadir di Sulut, Rumopa mengatakan belum bisa dipastikan. Namun kemungkinan itu bisa terjadi, karena kardinal dalam pertemuannya dengan Gubernur Sulut Olly Dondokambey lalu, memberi signal untuk itu.  

Sebelumnya, seperti diberitakan seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Yahya Cholil Staquf, dalam pertemuannya dengan Paus Fransisku pada 15 Januari 2020 lalu, mengatakan ada keinginan Paus untuk berkunjung di Indonesia.

Namun dalam pemberitaan itu, Cholil mengatakan kemungkinan kunjungan Paus dilakukan September 2020.  Sedangkan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi, ketika ditanyai ‘Apakah mungkin bagi Paus Francis untuk mengunjungi Indonesia?’ belum bisa memberi konfirmasi.

“Saya tidak bisa mengatakan ya atau tidak. Keputusan untuk mengunjungi Indonesia adalah keputusan pribadi Bapa Suci (Paus Fransiscus). Setiap tahun Paus menerima undangan untuk mengunjungi beberapa negara. Tahun lalu, Kardinal Parolin datang ke sini, dan tentu saja itu menunjukkan bahwa Paus memiliki perhatian besar terhadap Indonesia. Bulan depan saya akan pergi ke Vatikan dan mudah-mudahan saya memiliki kesempatan untuk bertemu Paus. Ketika saya bertemu Bapa Suci, saya akan menyampaikan kepadanya tentang keinginan orang Indonesia untuk kedatangannya, sehingga Paus dapat mengunjungi kami di sini. Tetapi sekali lagi, saya tidak tahu apakah Paus akan datang ke Indonesia atau tidak,” tukasnya.

Seperti diketahui, selama sejarah, sudah dua kali Paus ke Indonesia. Namun itu terjadi sudah lama sekali, yakni ketika

Paus Paul VI datang pada Desember 1970 dan Paus John Paul II pada October 1989, dimana saat itu merupakan masa pemerintahan Presiden Suharto. (rik/sbr)