oleh

Sulut Menebar Jala Hadapi Arus Turis China Tahun 2021

PERNYATAAN menarik dilontarkan Gubernur Sulut Olly Dondokambey kepada para kepala daerah kabupaten/kota saat Rapat Koordinasi Pengawasan Intern Keuangan dan Pembangunan Tingkat Provinsi Sulut, di Aula Mapalus Kantor Gubernur, Selasa (30/03/2021) lalu.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Olly mengingatkan bahwa sektor pariwisata merupakan prime mover (penggerak utama) terhadap sektor strategis lainnya dalam upaya membangkitkan kembali perekonomian di era pandemi ini.  

Menurut Olly, roda pembangunan di Sulut saat ini didorong oleh sektor pariwisata dan dan pertanian sebagai penggerak utama. “Terkait dengan pembangunan di daerah Sulut kita ketahui bahwa sektor pariwisata yang menjadi prime mover terhadap sektor-sektor strategis lainnya begitu juga dengan sektor pertanian,” terangnya. Para kepala daerah diminta bersama Pemprov Sulut memperbaiki dan membangun infrastruktur pariwisata.

Momentum kebangkitan pariwisata sudah di depan mata, seiring vaksinasi massal dan keinginan turis mancanegara yang “rindu” untuk kembali berpelesiran ke luar negeri.

Apa yang disampaikan Gubernur Olly, adalah konsep “menebar jala” terhadap boomingnya kembali turis asing di Sulut yang “pemanasanya” akan dimulai 2021 ini. Sulut yang masuk salah satu destinasi pariwisata super prioritas memang sudah harus bersiap diri. Tanda-tanda kebangkitan pergerakan turis asing sudah terlihat.

Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali sendiri sudah menyiapkan diri membuka “gerbangnya” pada Juni-Juli 2021. Namun pembukaan rute penerbangan internasional tersebut akan didahului dengan tahapan simulasi. “Kita akan latihan terus karena tidak bisa langsung buka pada Juni-Juli. Harus ada trial, harus ada pilot project dan harus ada beberapa tahapan,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno usai mengunjungi Bandara Ngurah Rai, Senin (22/03/2021) lalu.

Pedoman panduan penanganan masuknya turis ke obyek-obyek wisata telah dibakukan. Sosialisasi pun sudah dilakukan. Bahkan Kementrian Pariwisata telah dua kali melakukan sosialisasi pedoman CHSE di Sulut. Oleh sebab itu, Sulut sudah harus bersiap menjala masuknya turis asing.  

Seperti dilansir https://www.orioly.com bahwa pasar sumber pariwisata nomor satu dunia, yakni China berpotensi mengirim 100 juta pelancong ke luar negeri tahun 2021 ini. Itu menurut China Outbound Tourism Research Institute (COTRI).

Momentum itu kemungkinan akan dilakukan saat hari libur nasional besar di Tiongkok. Jutaan turis China ini akan memburu Negara yang tidak melakukan pembatasan penerbangan.

Di sisi lain, karakter turis China nantinya akan sedikit lain dari biasanya. Mereka akan memilih destinasi yang benar-benar mengedepankan protokol kesehatan. Negara dengan perluasan vaksinasi yang diterapkan juga menjadi salah satu pertimbangan para turis di era pandemi.

Yang pasti berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh Hilton di kota-kota besar China menunjukkan bahwa sebagian besar penduduknya ingin sekali melakukan perjalanan lagi.

Menurutnya, 91% wisatawan mengatakan mereka berencana untuk bepergian lagi setelah pembatasan perjalanan berkurang dan mereka dapat bepergian dengan tenang, sementara 46% mengatakan mereka akan melakukan perjalanan lebih dari sebelumnya. Diprediksi ada 100 juta orang China yang akan menghabiskan liburannya di luar negeri tahun 2021

Untuk menarik perhatian turis China ini, kita tidak hanya bermodalkan menjual keindahan alam kita. Namun di era pandemi ini, kita harus memberikan keamanan bagi turis dalam hal virus Corona. Turis China nantinya tidak akan lagi melakukan perjalanan berkelompok besar seperti sebelumnya.

Destinasi yang diburu juga bukan lokasi dengan kerumunan tinggi, melainkan tempat-tempat yang sunyi. Konsep “Turis Baru” era pandemi ini harus dipahami bersama tak hanya oleh dinas pariwisata, namun seluru stake holder pariwisata di Sulut. (Steven Rapar)