oleh

Sekedar Urun Rembuk Buat Tondano & Danau Tondano

Saya lahir dan besar di Kota Tondano, kota sejuk dan indah di dekat Danau Tondano. Sayang sekali di benak banyak orang Tondano sendiri, kota Tondano tidak berkembang dan kalah jauh dengan daerah baru hasil pemekaran. Sebagai contoh yang paling dekat adalah Kota Tomohon hasil pemekaran dari Minahasa selain Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara.

Melihat fakta ini, saya coba membuat WAG Tondano Kinatouanku dan ternyata banyak menarik minat untuk berdiskusi serta memberikan ide yang menarik untuk kedepannya. Dalam tulisan ini saya coba merangkum beberapa ide menarik untuk memajukan Kota Tondano yang muncul.

Selama ini ada di “kepala torang sandiri” orang Tondano, Kota Tondano adalah kota mati dan tidak maju-maju.
Pertama torang sebagai orang Tondano harus menghapus stigma jelek yang telah tertanam di benak orang bahwa Tondano itu kota yang tidak aman.

Biarkanlah Pemda Minahasa bekerja keras untuk membuat Kota Tondano hidup selama 24 jam tanpa henti dan itu sudah terlihat kenyataanya sekarang. Ada Alfa Mart dan lain-lain yang bahkan buka 24 jam. Ada KFC dan café yang menjamur yang menandakan Kota Tondano itu aman karena memang orang Tondano dari sananya adalah “pambae” dan sangat menerima perbedaan.

Contoh nyata, di Tondano ada Kampung Jawa, Kampung Gorontalo, ada Synagoga dan peranakan China tidak merasa berbeda demikian juga orang India yang puluhan tahun membuka toko di pasar bawah. Tapi orang bukan menyebut ia dari India tapi Bombay kota asal mereka.

Chella putra dari pedagang Bombay yang tinggi menjulang tidak merasa risih sekolah bareng-bareng kami Tondano asli dan teman-teman dari Kampung Jawa. Ia kebetulan sekelas sama saya di SMA. Dasar ini sudah bagus sekali untuk memulai mengajak para investor untuk mau datang membuka usaha di Tondano.

Kota Tondano bisa disebut kota yang tata kotanya tergolong rapi karena dibuat oleh Inggris dulu zaman penjajahan. Ada dua jalan lurus Touliang dan Toulimbat ditengahnya ada teberan atau Sungai Tondano yang membelah kota Tondano.

Bisa dibayangkan kalau teberan Tondano bisa dibuat lagi seperti dulu, air mengalir dan bersih serta perahu hilir mudik dari Danau Tondano membawa ikan hasil tangkapannya untuk di jual di pasar bawah Tondano.
Bayangkan kemudian kalau di pasar bawah Tondano dibangun “fish mart” dimana para pembeli bisa membeli ikan segar dan sayuran kemudian ada rumah makan tempat sewa untuk makan sekaligus memasaknya.

Pembeli tinggal bilang mau dimasak apa, pedas atau tidak dan seterusnya. Tidak harus hanya ikan dari Danau bisa ditambah juga ikan laut dan lain-lain.
Selanjutnya keterbelakangan Tondano dalam pembangunan justru kita jadikan berkat dengan mempertahankan bangunan-bangunan tua yang sudah berusia 50 tahun keatas untuk tetap dipertahankan. Pemerintah memberi subsidi kepada keluarga yang bersedia, memberikan bibit bunga untuk ditanam di halaman rumahnya dan tentu saja membantu biaya perawatan.

Dengan demikian bisa dipertahankan Tondano sebagai kota tua. Bisa melihat contoh New Delhi dan Old Delhi serta beberapa kota lainnya di dunia.

Selanjutnya karena lalulintas juga belum macet maka ini perlu dipertahankan dengan menjadikan Kota Tondano sebagai “green city” dan kota sepeda. Adakan rutin kegiatan bersepeda keliling Danau Tondano dan untuk para lansia yang cukup banyak di Tondano cukup dari Stadion Maesa Sasaran ke Benteng Moraya.

Kegiatan lain seperti yang sudah akan dibuat oleh Alumni Smanto 170.1 dibawah pimpinan Irjen Pol. Carlo Tewu adalah membuat Koperasi untuk menangani persawahan di Tondano sehingga bisa memberi manfaat yang positif buat para pemiliknya. Dengan demikian keinginan untuk menjual lahan otomatis berkurang dan keindahan bisa dinikmati, entah dari sawah yang menghijau atau tanaman lain yang mungkin lebih produktif tapi tetap indah untuk dipandang.

Ide lain membuat lomba menghias pekarangan rumah dengan bunga atau tanaman hias lainnya. Ini memang khas Tondano dulu kala dimana hamper semua rumah berlomba-lomba menghias pekarangan rumahnya.
Kemudian menyangkut parawisata agar ada One Day Tour Tondano & Danau Tondano dengan demikian perlu dibenahi objek-objek wisata yang akan dikunjungi. Mulai dari Masarang, Lodji Tondano, Makam Dr. Sam Ratulangi, Makam Kiay Modjo, Gereja Sentrum, Synagoga, kemudian Pura Danu Mandara yang berada di antara Kiniar dan Touliang Oki. Selanjutnya ada Gereja Tua di Watumea. Pulau Likri sedikit diperluas dibangun Gereja Oikumene. Selanjutnya ada bekas lapangan terbang di Tasuka dan mungkin di Sumaru Endo Remboken dibuat sebagai pusat olahraga air dan lain-lain.

Kemudian di Benteng Moraya dibuat berbagai atraksi kesenian dan pertunjukan terciptanya Danau Tondano diselang seling dengan Kisah heroic Perang Tondano.

Selanjutnya bagaimana membantu pemerintah melestarikan Danau Tondano jangan sampai berkat Tuhan yang luar biasa buat Minahasa ini bernasib sama dengan Danau Limboto. Ini banyak masalah terutama menyangkut penanganan enceng gondok dan penghutanan kembali DAS Tondano.

Ada ide menanam seho seperti anjuran salah satu Tokoh Kawanua Alm. Om Ventje Sumual. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah membuat program “Adopsi Pohon”. Misalnya Koperasi sudah berdiri bisa saja ada satu bagian yang menangani ini. Cukup banyak tanah yang menganngur dan pemiliknya bersedia menjadikan tanahnya untuk ditanami pohon. Bisa seho tapi juga bisa apa saja.

Selanjutnya Koperasi akan menghitung biaya yang dibutuhkan sampai tanaman ini bisa mandiri. Nah berdasar hitungan ini maka ditetapkan bagi yang berminat adopsi pohon diwajibkan membayar sejumlah dana. Kepada mereka diberikan penghargaan berupa sertifikat, namanya dicantumkan di pohon yang di adopsi dan lain-lain.
Rasanya juga penyuluhan untuk mencintai lingkungan harus terus digalakan, seperti misalnya dalam kegiatan lomba sepeda ada kegiatan menanam pohon serta kuis-kuis yang menyangkut lingkungan hidup. Poster dan lain-lain juga membantu.

Terakhir muncul untuk membuat miniatur Jerusalem di Danau Tondano dan sekitarnya. Memang di bukit-bukit apakah di sebelah timur atau barat Danau Tondano jika ada tempat untuk kegiatan religious dan hotel pasti akan menarik minat turis.

Mungkin ini juga bisa dikombinasikan dengan rumah jompo modern yang dilengkapi dengan rumah sakit berkelas untuk menarik para lansia dari Jepang dan Belanda yang mungkin saja ingin menghabiskan masa tuanya di daerah tropis yang tenang. Jika dipasarkan dengan baik dan ditangani dengan benar ini bisa memberikan pemasukan devisa untuk Minahasa khususnya dan Sulut pada umumnya.
Semoga ide-ide menarik diatas ada yang bisa terwujud dan tentu saja menarik perhatian Pemda Minahasa.(*)

(Oleh: Bert Toar Polii)