Komentaren.net-.Masih adanya polemik terkait perbatasan dan kepemilikan pulau pulau terluar di wilayah kedaulatan NKRI membuat DPR-RI membentuk PANSUS RUU tentang Landas Kontinen.
Terkait hal tersebut, pihak DPR RI PANSUS RUU tentang Landas Kontinen melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) di Sulut dan diterima Gubernur Olly Dondokambey didampingi Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Steven O.E. Kandouw di Ruang Mapalus Kantor Gubernur, Jumat (4-6-2021).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh DPR RI ini dihadiri oleh 5 Orang anggota DPR RI, yaitu Ketua Tim Pansus DPR RI TB Hasanudin, anggota Rudi Paslut, Ratna juwitasar, Muslim dan Andi Akmal dalam rangka penyesuaian RUU Landas Kontinen.
Menurut Ketua Tim Pansus TB Hasanudin, maksud dan tujuan kunker ini adalah Undang-Undang Landas Kontinen atau Undang-Undang Nomor 1 tahun 73 sudah kusam karena tidak pernah memasukkan hasil rapitikasi unclose 1982 yang kemudian sudah dirapitikasi melalui Undang-Undang Nomor 17 tahun 1985.
“Dalam undang-undang yang lama itu dijelaskan tentang wilayah teritori atau wilayah teritorial 12 dan kemudian ada namanya JPE sepanjang 200 dan tetapi menurut unclose kita masih mendapatkan hak berdaulat yang berdasarkan Landas penghitungan dari paling depan sampai maksimum sekitar 300,” ungkapnya.
“Materi RUU ini mencakup 11 BAB dan 50 Pasal, tidak terlalu banyak tetapi nilai strategisnya sangat banyak, yang pertama akan mendapatkan kejelasan batas Landas Kontinen terutama kita melaksanakan perundingan-perundingan masalah BOB dan itu akan menjadi perhatian kita semua karena Sulawesi Utara berbatasan dengan wilayah negara asing terutama negara Filipina,” sambungnya.
Hasanudin menambahkan bahwa Undang Undang ini bertujuan untuk menunjukkan dimana dasar hak berdaulat dan kewenangan tertentu di daerah Kontinen dan untuk tanggung jawab ganti rugi terhadap terjadinya pencemaran.
Ada 4 Urgensi dalam Undang-Undang ini yaitu:
– memperkuat dasar hukum Republik Indonesia dan melakukan Klaim atas Landas Kontinen di atas 200 Mil Laut,
– memperkuat dasar hukum bagi pelaksanaan hak berdaulat Negara Republik Indonesia untuk melaksanakan Explorasi atau Exploitasi sumber daya alam di Landas Kontinen,
– memperkuat dasar hukum untuk perundingan terutama di perbatasan-perbatasan batas Landas Kontinen, dan
– kepastian hukum bagi pelaksanaan penegakan hukum di Landas Kontinen.
Usai kegiatan, saat ditanyai terkait polemik pulau Miangas yang diklaim oleh Filipina, TB Hasanudin mengatakan bahwa permasalahan ini juga di bahas dalam RUU tersebut.
“Bukan hanya Miangas, tapi yang lain-lain juga. Misalnya Natuna dan wilayah di kalimantan yang harus dipertahankan, bahwa ini wilayah NKRI,” jelasnya.
Dalam kesempatan Gubernur Olly Dondokambey memberikan apresiasi atas kunker DPR RI Pansus RUU LANDAS KONTINEN di Provinsi Sulut.
“Seperti yang disampaikan Ketua Tim bahwa Sulut ini berada di perbatasan dan kita tau persis memang wilayah Prov. Sulut ini berada di dua ahli, jadi perairan Internasional melewati Laut Sulawesi dan Laut Maluku dan ini masukan-masukan dalam pembahasan RUU ini sangat penting bagi Prov. Sulut karena melihat letak geografisnya yang berada di bibir Pasifik,” tuturnya.
“Inilah hal yang sangat baik bagi kita sehingga kita bisa mengetahui potensi-potensi yang akan menjadi manfaat banyak bagi rakyat Sulut. Dengan adanya Undang-Undang Landas Kontinen ini dan dari tahun 73 sampai hari ini belum ada koreksi lagi sehingga potensi yang ada di dasar laut belum dapat kita manfaatkan dengan baik dan hal ini sudah kita susun secara tertulis, nanti kita akan kirim usulan-usulan dari pemerintah provinsi untuk manfaat bagi undang-undang Landas Kontinen ini,” lanjutnya.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi, tanya jawab dan masukan mengenai permasalahan tentang RUU Landas Kontinen.
Diketahui, sengketa perebutan Pulau Miangas antara Indonesia dengan Filipina telah ada pada tahun 1979. Akan tetapi sesungguhnya, perebutan wilayah Pulau Miangas sudah ada sejak sebelum adanya Indonesia dengan Filipina.
Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara Pulau Miangas (Indonesia) dengan pantai Mindanao (Filipina).
Disamping itu letak Pulau Miangas (Indonesia) di dekat perairan Filipina, dimana kepemilikan Pulau Miangas oleh Indonesia berdasarkan perundingan anatara Amreika Serikat dan Hindia Belanda diatas kapal Greenphil tanggal 4 April 1928 berkat keputusan arbiter internasional yang bernama DR. Max Huber, memutuskan pulau Miangas masuk ke wilayah kekuasan Hindia Belanda karena persamaan budaya dengan masyarakat Taulud.
Semakin dipertegas diresmikannya tugu perbatasan antara Indonesia dengan Filipina di tahun 1955, dimana Miangas berada di wilayah Indonesia.
Secara historis, penentuan batas Filipina dan Indonesia pernah melalui perundingan yang alot. Sekedar diketahui, pada awalnya, Pulau Miangas yang masuk dalam kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara diklaim pemerintah Filipina sebagai milik mereka atas dasar ketentuan konstitusi Filipina yang ketika itu mengacu pada Perjanjian Paria (Treaty of Paris 1898).
Sementara Indonesia juga mengklaim hak yang sama berdasarkan prinsip (the archipelagic principles) sesuai Konvensi PBB tentang hukum laut UNCLOS 1982.
(*/stvn)

redaksikomentaren@gmail.com