oleh

Perhiasan, “Komoditi Seksi” Sulut di Tengah Pandemi

SURPLUS neraca perdagangan Sulawesi Utara (Sulut) di awal tahun 2021 (Januari 2021), merupakan kabar menggembirakan yang akan bermanfaat dalam menjaga ketahanan ekonomi Sulut di masa pandemi Covid-19 yang masih berlanjut.   

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara mencatat, neraca perdagangan Sulut yang diukur melalui penghitungan net ekspor (total ekspor dikurangi total impor) pada Bulan Januari 2021 mengalami surplus, senilai US$88,37 juta.

Nilai ini meningkat signifikan dibandingkan kondisi bulan sebelumnya (Desember 2020) senilai US$74,72 juta. BPS Sulut menyebut, nilai FOB (Free On Board) Ekspor Nonmigas Sulut di Bulan Januari 2021 senilai US$ 94,28 juta. Meningkat sebesar 13,92 persen dibandingkan Desember 2020 yang ‘hanya’ US$ 82,76 juta (m-to-m).

Ada fakta menarik di balik data BPS ini. Dilihat dari volume ekspor Sulut pada Januari 2021, mengalami peningkatan 20,97 persen, dibanding Desember 2020. Dan salah satu komoditi yang mengalami peningkatan besar pada volume ekspor adalah perhiasan/permata, yakni sebesar 1.557,16 persen.

Disebutkan BPS, tujuan ekspor nonmigas terbesar Sulut pada Januari 2021, adalah Singapura. Yakni senilai US$ 27,35 juta atau 29,01 persen dari total ekspor. Menariknya, produk atau komoditi yang paling banyak diekspor ke negara tersebut adalah perhiasan/permata. Permata kini menjadi komoditi ekspor yang ‘seksi’ di Sulut pada kategori nonmigas.

Sejak 2019, tanda-tanda perhiasan Sulut akan menjadi komoditi seksi di mata Negara pengimpor seperti Singapura, sudah terlihat. Seperti diketahui, dalam catatan BPS Sulut pada 2019, permintaan ekspor perhiasan ke Singapura dari Bumi Nyiur Merlambai, sudah menunjukkan geliatnya saat tumbuh 40,99% (secara tahunan periode Januari 2019—Oktober 2019).

Tren kenaikan ekspor kelompok perhiasan Sulut ke Singapura sebenarnya sudah terlihat tanda-tandanya pada 2018, namun masih kecil kenaikannya yakni Januari-Oktober dari 9,02 persen menjadi 16,46 persen. Namun nanti pada Januari 2021, ekspor perhiasan Sulut ‘menggila’.

Meski tidak disebutkan perhiasan jenis apa yang menjadi “primadona” ekspor nonmigas di era pandemi, namun Sulut sebagai wilayah ‘surga’ produsen emas dan perak, sedikit menjawab jenis perhiasan yang ‘diburu’ Singapura itu.   

Kandungan material perhiasan kedua jenis tersebut, cukup melimpah di sejumlah kabupaten/kota di daerah ini. Di antaranya Minahasa Utara, Bitung, Mitra, Boltim, Bolmong termasuk Minsel. Seksinya komoditi ini dan menjadi salah satu primadona ekspor, bukan tidak mungkin berkorelasi terhadap kasus viral yang merebak terkait PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin). Merebaknya kasus PETI ini, bukan tidak mungkin juga berimbas pada persoalan lingkungan hidup di Sulawesi Utara.

Ekspor perhiasan Sulut yang terus meroket dan kini menjadi ‘hero’ sebagai komoditi ekspor seksi di tengah pandemi, bisa menjadi sebuah warning bahwa di balik reputasi kemilau perhiasan, ada keprihatinan lain yang sedang mengancam.  

Indonesia memiliki banyak kegiatan pertambangan rakyat skala kecil namun illegal yang kerap disebut PETI ini, termasuk di Sulut. Jika ditangani secara komprehensif, potensi besar ini bisa menjadi penyelamat ekonomi Sulut di saat pandemi. Namun jika dibiarkan, atau dimainkan bak layang-layang (tarik-ulur), bukan tidak mungkin di balik kabar baik tentang ekspor perhiasan Sulut yang meroket, akan menciptakan bencana lingkungan di sisi lain.

Itu sebabnya perlu ada kebijakan win-win solution terhadap masalah PETI ini. Seperti halnya pengakuan secara hukum formal disertai bantuan pelatihan teknik, tanpa merusak lingkungan atau setidaknya meminimalisir dampaknya bagi lingkungan. Kontribusi terhadap nilai ekonomi jangan menjadi kontra terhadap lingkungan. Sehingga nantinya komoditi ‘seksi’ ini tidak berdampak ‘siksa’ bagi alam di daerah tercinta ini. (tim redaksi/sbr)