oleh

Pemburu Harta Karun Jerman Tandai 27 Lokasi di Sulut

HARTA karun baik peninggalan zaman Kerajaan kuno maupun eks penjajah (Jepang dan Belanda), selalu menjadi daya tarik sekaligus misteri yang mengundang berbagai tanda-tanya dan spekulasi. Namun sejak penemuan harta karun Yamashita di Filipina, kisah tentang harta karun di wilayah Filipina dan sekitarnya, termasuk di Sulawesi Utara, masih dianggap sebuah fakta yang menarik ditelusuri. 

Konon di Bumi Nyiur Melambai ini, ada 27 titik lokasi harta karun peninggalan eks penjajah. Hal ini dibenarkan para pemburu harta karun professional yang berhasil diwawancarai Komentaren, baru-baru ini. Nara sumber yang diinisial dengan nama JR ini mengatakan, ditemukannya 27 titik harta karun di Sulut, berawal dari datangnya seorang pemburu harta karun professional asal Jerman bernama Geane Holler pada tahun 1996 silam.

Ketika tiba di Kota Manado, Holler yang didanai investor dari Inggris merekrut JR untuk membantunya. Kemudian mereka membuat sebuah perusahaan PT MGI (sengaja disingkat), sehingga bisa dengan leluasa beraktivitas di Sulawesi Utara. “Kantor kami di kawasan jalan Boulevard,” kata sumber.

Begitu perusahaan dan kantor settle, perburuan pun dimulai. Namun jangan menganggap bahwa perburuan mereka bak film Indiana Jones. Holler sang pemburu harta karun menggunakan alat modern waktu itu untuk melacak keberadaan harta karun yang didominasi emas. “Peralatan berupa gold detector itu didatangkan dari Ukraina yang waktu itu masih Rusia,” ungkap sumber seraya menjelaskan, dia sendiri ditugaskan sebagai operator computer yang terkonek dengan alat deteksi.

Hebatnya, cara deteksi alat itu harus dari atas udara. Sehingga Holler cs yang turut didampingi pengawal dari aparat TNI waktu itu, kerap menyewa pesawat kecil Cesna. “Jadi waktu itu kami mencarter Cesna yang sering melayani rute Manado Gorontalo. Dan sewaktu dicarter, cuma kami yang berada di dalam pesawat untuk menjelajahi wilayah udara di Sulut ini,” ungkap sumber JR.

Dikisahkannya, sewaktu mencarter pesawat, Holler diam-diam, tanpa sepengetahuan pilot, menancapkan alat di tubuh pesawat berupa chip yang melekat di bodi pesawat. Cara kerja chip tersebut adalah, ketika alat gold detector berhasil mengunci koordinat lokasi harta karun, chip itu akan dilepas dengan menggunakan remote. “Chip itu akan menuju koordinat yang dideteksi dari pesawat. Dan kemudian ketika sampai di tanah, chip itu akan memancarkan koordinat yang kemudian dikunci dalam kompoter,” ungkap sumber.

Dan dari hasil penelusuran selama 4 tahun di Sulut, tim Holler berhasil mendeteksi dengan mendapatkan koordinat 27 titik harta karun di Sulawesi Utara. Lokasi tersebut ada yang di atas tanah dan di perairan. Holler sendiri pernah mencoba mengangkat sebuah peti di lokasi yang terekam melalui gold detector tadi. “Lokasinya waktu itu di kedalaman laut. Kami menggunakan penyelam. Di lokasi itu ditemukan sebuah peti yang menempel pada sebuah bodi kapal karam. Tapi untuk mengangkatnya sangat sulit. Bahkan ketika diturunkan sebuah drum besar untuk turut membantu mengangkat, tetap tidak terangkat waktu itu,” ungkap sumber. Sehingga upaya pun gagal. Meski begitu lokasi tersebut masih tetap disimpan tim Holler.

Guna mengambil harta karun tersebut, tim sendiri harus melancarkan ‘silent operation’ mengingat harta karun tersebut sangat sensitive. Lagipula, Negara tidak akan membiarkan begitu saja pihak asing untuk mengambil harta karun yang tersebar di Indonesia.

Holler sendiri tahun 1999-2000 hengkang dari Sulawesi Utara. Dia kembali ke negaranya seiring pecahnya konflik SARA di Ambon. “Dia kembali ke negerinya karena waktu itu terjadi konflik SARA. Namun sejak itu, dia tidak pernah kembali lagi di sini,” aku sumber.

Namun begitu, JR yakini dengan data yang diperolehnya berupa 27 titik harta karun di Sulawesi Utara, Holler dan rekan-rekannya di Eropa akan kembali lagi di suatu waktu. Dan itu sudah terbukti ketika tahun 2016, JR mengaku dihubungi seorang bule untuk menunjukkan sebuah tempat yang dulunya pernah terdeteksi sebagai lokasi harta karun dari 27 titik yang telah ditemukan. “Saya kemudian mengantarkannya ke lokasi tersebut,” aku sumber. Namun sebelum dilakukan eksplorasi, tiba-tiba datang petugas yang menegur keberadaan bule tersebut, yang kemudian meninggalkan lokasi. “Saya juga heran, begitu kami sampai di lokasi sudah ada pihak lain yang datang,” katanya.

Sepeninggalan bule tersebut, JR mengaku sudah tidak ada lagi yang menghubunginya terkait keberadaan 27 titik harta karun tersebut. Namun JR mengatakan, pasti suatu waktu aka nada lagi pihak asing yang datang untuk mencarinya. “Karena data koordinat 27 titik itu ada pada saya dan tersimpan di komputer,” katanya. Pihak Indonesia sendiri, akunya, sulit untuk bisa mengeksplore keberadaan harta-harta karun tersebut. “Karena membutuhkan alat yang canggih,” katanya.        

Secara terpisah, Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Muatan Kapal Tenggelam Indonesia (APPP BMKTI) pernah mendeteksi ada 464 titik lokasi kapal karam di lautan Indonesia. Nilainya diperkirakan mencapai 12,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp165 triliun. Harta karun itu merupakan kapal-kapal Portugis, Belanda, dan Cina dari periode 1500-1800. Kapal-kapal itu tenggelam ketika melintasi perairan Indonesia, yang merupakan jalur perdagangan utama dunia. Pemerintah punya data lain. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat ada 134 lokasi kapal tenggelam. Angka ini hanya sebagian kecil saja. Di berbagai samudera di dunia diperkirakan lebih dari 3 juta kapal karam dari masa ke masa. Perairan Indonesia juga dipercaya sebagai kuburan kapal Portugis Flor de La Mar yang tenggelam pada 1511 di sekitar Selat Malaka yang membawa puluhan ton emas batangan.

Produser film Titanic Jon Landau dan saluran televisi National Geographic menyatakan tertarik dan mewanti-wanti akan mendokumentasikan kapal legendaris itu bila dikemudian hari ditemukan. Kapal ini juga jadi incaran banyak negara termasuk Malaysia. Dengan potensinya yang sedemikian besar, Indonesia sudah lama menjadi incaran para pemburu harta karun, termasuk di lokasi Sulawesi Utara.

Salah satu pencurian harta karun yang cukup menggemparkan adalah yang dilakukan Michael Hatcher. Warga negara Australia ini berhasil mengeruk isi kapal peninggalan VOC bernama Geldermalsen yang karam di perairan Bangka berabad lalu. Hatcher melelang temuannya di Balai Lelang Christie, Belanda dengan nilai 17 Juta dolar AS atau sekitar Rp220 miliar pada akhir 1980-an. Indonesia pun kecolongan. Susilo Bambang Yudhoyono ketika menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia pernah mengeluarkan Keppres No. 19 Tahun 2007 tentang Panitia Nasional (Panas) Pengangkatan dan Pemanfaatan BMKT yang dipimpin oleh menteri kelautan dan perikanan. Keppres ini merupakan revisi dari Keppres No. 12 Tahun 2000. Sejak 2000-2011, panitia ini telah mengeluarkan izin survei pengangkatan dan pemanfaatan harta karun di 75 lokasi. Namun, izin yang diberikan tak efektif dilaksanakan, akhirnya pemerintah menerapkan moratorium perizinan. (rik/sbr)