oleh

Pemberlakuan PCR H-2 Penumpang Pesawat Diminta Ditinjau Kembali


 
Komentaren.net-.Pemberlakuan syarat PCR H-2 terhadap penumpang Pesawat Udara mendapat pertentangan dari Serikat Bersama (SekBer) PT. Garuda Indonesia.

Tomy Tampatty selaku Koordinator Serikat Bersama PT. Garuda Indonesia mengatakan bahwa pihaknya telah mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri untuk meminta meninjau kembali syarat tersebut.

Adapun surat bernomor: SEKBER/021/VIII/2021 tertanggal 3 Agustus 2021 yang ditanda tangani oleh: Ketua Umum Serikat Karyawan Garuda Indonesia SEKARGA/DWI YULIANTA, President Asosiasi Pilot Garuda/Capt.MUZAENI dan Ketua Umum Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia/ACHMAD HAERUMAN menyebutkan, bahwa seluruh karyawan Garuda Indonesia sangat mendukung segala upaya pemberantasan Virus Corona.

Adapun upaya yang kami lakukan di Internal Garuda Indonesia antara lain melakukan vaksinasi terhadap seluruh karyawan Garuda Indonesia, melaksanakan PROKES yang ketat seperti 5 M dan juga melaksanakan WFH untuk pegawai non Crew.

Selain itu, kami juga aktif memberikan edukasi kepada para penumpang terkait dengan PROKES Covid.

Perlu kami sampaikan bahwa di dalam pesawat Garuda Indonesia terdapat sistem penyaringan udara yaitu High Efficiency Particulate Air ( HEPA Filter) selama penumpang berada di dalam pesawatdan juga kami rutin melakukan PENYEMPROTAN DISINFEKTAN di pesawat.

Bahwa menunjuk pada INSTRUKSI MENTERI DALAM NEGERI No.27 TAHUN 2021 Tentang PEMBERLAKUAN PEMBATASAN KEGIATAN MASYARAKAT LEVEL 4, LEVEL 3 DAN LEVEL 2 CORONA VIRUS DISEASE 2019 DI WILAYAH JAWA DAN BALI Khususnya isi instruksi di halamat 7 huruf n angka 2 disebutkan:
n.Pelaku perjalanan domestik yang menggunakan mobil pribadi, sepeda motor dan transportasi umum jarak jauh(pesawat udara, Bis, Kapal Laut dan Kereta Api) harus:
1. menunjukan kartu vaksin(minimal vaksinasi dosis pertama)
2. menunjukan PCR H-2 untuk pesawat udara sementara untuk moda transportasi lainnya (mobil pribadi, sepeda motor, Bis, Kereta Api dan Kapal Laut) cukup dengan Antigen H-1.
Bahwa menyikapi ketentuan poin 2 khususnya yang mewajibkan penumpang pesawat udara untuk menunjukkan PCR H-2, sementara moda transportasi selain pesawat udara hanya diperbolehkan menunjukan Antigen (H-1), maka kami menyampaikan tanggapan dan saran kepada pemerintah untuk melakukan peninjauan kembali atas Intruksi tersebut karena menjadi tanda tanya besar,

Tampatty bahkan mempertanyakan apa pertimbangan pemerintah mewajibkan pengguna moda transportasi Pesawat Udara harus menunjukkan hasil PCR H-2 sementara pengguna transportasi selain Pesawat Udara cukup memperlihatkan hasil ANTIGEN (H-1)..?

“Perlakuan ini terkesan ada diskriminasi, padahal sesungguhnya pengguna transportasi Pesawat Udara memiliki waktu tempuh yang jauh lebih singkat dan penumpang lebih nyaman karena kami telah menerapkan PROKES dan HEPA Filter,” ujarnya.

Tingginya harga SWAB PCR sangat memberatkan pengguna transportasi udara, dimana terkadang harga SWAB PCR lebih tinggi dari harga tiket di beberapa rute tertentu dan hal ini menjadi keluhan para penumpang pesawat/masyarakat yang disampaikan kepada kami dan hal ini juga menjadi salah satu penyebabmenurunnya tingkat isian penumpang pesawat secara signifikan.

“Atas pertimbangan yang kami sampaikan di atas, maka kami memohon dengan hormat kiranya Bapak Menteri Dalam Negeri melakukan peninjauan kembali atas Intruksi Nomor: 27 Tahun 2021 terkait syarat pengguna moda transportasi pesawat udara khususnya kewajiban penggunaan PCR H-2  agar diganti dengan kewajiban ANTIGEN H-1 seperti moda transportasi lainnya,” jelasnya.

“Kedepan kami berharap, jika pemerintah akan membuat kebijakan terkait dengan Transportasi Udara mohon kiranya dapat melibatkan Para Pakar Penerbangan Nasional Indonesia dan kami karyawan  Garuda Indonesia siap membantu pemerintah jika dibutuhkan,” harapnya.
(Stvn)