oleh

Pelamar Naker Talaud ke Jepang Bakal Tatap Muka Online. Ini Jadwalnya!

Manado, Komentaren.net – Persiapan pengiriman tenaga kerja (naker) Talaud dan Sulut ke Jepang hasil kerjasama Pemkab Talaud, PT Takumi Koba Indonesia dan BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia), terus dilakukan. Bupati Talaud Elly Engelbert Lasut (E2L) mengatakan, para pelamar akan melakukan tatap muka baik secara online maupun offline, Pukul 14.00 Wita, Senin (29/03/2021) nanti.

“Berkaitan dengan rencana naker kerja di Jepang yang mendaftar, baik di seluruh Kab Talaud maupun di kantor perwakilan, nanti hari Senin jangan lupa akan dilaksanakan pertemuan daring dengan pihak PT Koba. Mereka yang telah mendaftar akan tatap muka via online,” kata Bupati Elly Lasut.

Bagi pelamar yang berada di Talaud, lanjt dia, akan disiapkan tempat tersendiri sesuai wilayah. Yang berada di Kabaruan berkumpul di Kantor Camat Mangaran, sedangkan Lirung dan Salibabu di Kantor Camat Lirung. “Kumpul di aula kantor kecamatan,” katanya

Bagi pelamar di Karakelang dan Karatun akan berkumpul di Gemeh. Sedangkan di seputaran ibukota (Melonguane) tempat kumpul di aula BKD di Melonguane. “Setengah dari Karakelang akan dipusatkan di BKD, kumpul hari Senin jam 2,” katanya mengingatkan agar peserta makan dulu, karena tidak disiapkan makanan karena banyaknya peserta.  

Sementara bagi pelamar di Kantor Perwakilan Pemkab Talaud di Manado, lanjut Bupati E2L, akan berkumpul di T2 Garden Koha. “Di situ akan hadir PT Koba dan pihak perbankan untuk memberikan penjelasan,” kata Lasut.

Bupati Talaud kembali mengatakan, keberangkatan naker ke Jepang akan bekerjasama dengan Bank Mandiri, BNI dan Bank Sulutgo. Karena pembiayaan keberangkatan disiapkan oleh bank bagi peserta, sehingga salah satu syaratnya para peserta tidak sedang di-blacklist oleh bank karena memiliki kredit macet atau persoalan lainya dengan perbankan.

Berikut, sebelum berangkat, para peserta wakib mengikuti pelatihan selama 4 bulan secara online. “4 bulan dilatih dulu, baik Bahasa Jepangnya, soal attitude, etika dan kinerja. Pelatihan akan menggunakan daring,” katanya mengingatkan, Jepang sangat disiplin dan menghargai waktu, sehingga para pekerja nantinya harus mampu beradaptasi dengan baik.

Setelah lulus bekerja di Jepang, karena keberangkatan akan dibiayai bank, maka para naker diharuskan mengembalikan uang yang dibiayai perbankan tersebut setelah bekerja di negeri yang dituju. Diketahui UMR di Jepang berkisar Rp22-27 juta per bulan.

Untuk biaya keberangkatan berkisar Rp25-37 juta. Terkait cara dan mekanisme pengembalian, aku Lasut, masih akan dinegosiasikan dengan pihak bank. Yang pasti kata dia, karena ini dibiayai bank, harus mengikuti ketentuan perbankan, terutama tidak dalam blacklist BI checking.

“Yang so lulus di online, nda ada cacat di bank. Kalau diblacklist harus pakai doi sandiri. Dan yang dibiayai bank, musti kase pulang. Tiap bulan kase pulang (cicil). Besarannya nanti nanti akan dinego dengan bank dan juga dengan pihak pelatih dan pembimbing,” kata Bupati Lasut.

Ada empat bidang pekerjaan di Jepang yang disiapkan, yakni penjaga lansia, perawat kesehatan, bekerja di lahan pertanian dan menjadi buruh food prosesing pengolahan makanan. “Yang suka pergi bekerja, silakan. Boleh juga laki-bini. Cuma untuk bekerja tidak di tempat yang sama. Nanti malam saja boleh bertemu,” katanya.

Hal penting lainnya selain skill dan attitude serta soal BI checking, Lasut mengatakan naker yang akan dikirim harus lulus tes kesehatan. “Yang punya penyakit kronis atau paru-paru tidak bisa,” katanya. Dia juga menekankan, agar perilaku setelah bekerja di Jepang harus diperbaiki. “Harus berubah sikap. Yang malas-malas pasti nda lulus,” katanya.

Sampai saat ini, kata dia, yang berminat untuk menjadi naker di Jepang, masih dibuka kesempatan. “Yang belum mendaftar masih boleh lengkapi persyaratan, asalkan serius. Sungguh-sungguh dan jangan cuma bermain-main. Jang lulus kong nda pigi. Nda usah daftar jo. Lebe bagus di rumah jo. Sekali jalan so musti berusaha sampe berhasil,” tukas Lasut. (rik)