oleh

Pariwisata Sulut ‘Melawan’ Corona

VIRUS Corona yang merebak di Cina disertai tindakan preventif Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia yang menghentikan sementara penerbangan tujuan negeri Panda itu, memukul telak sektor pariwisata. Jutaan wisatawan Cina yang mendominasi obyek wisata, kini ‘menghilang’. Sulawesi Utara termasuk daerah wisata yang kena dampak signifikan.

Data yang diungkapkan otoritas Bandara Sam Ratulangi per Januari 2020, wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Manado via Bandara Sam Ratulangi mencapai 13.058 orang. Mereka berasal dari 10 negara (Cina, Singapura, Filipina, AS, Jerman, Korsel, Inggris, Prancis, Malaysia Australia).

Dari 13.058 wisman itu, 11.961 wisman didominasi dari Tiongkok. Artinya, wisman 9 negara digabung, jumlahnya tidak sampai 10 persen dari jumlah wisman Cina. Bahkan data per Januari 2019 lalu, perbandingannya jauh lebih besar. Dari 11.089 wisman yang datang, 10.210 wisman didominasi dari Negeri Tiongkok.

Pengelola restoran di RM Rumah Alam kepada Komentaren mengaku, sebelum ditutupnya penerbangan Cina akibat virus corona, mereka sering melayani grup turis Cina sampai ribuan orang per minggu. “Mereka sekali masuk berjumlah 200 orang dalam satu grup yang dibawa travel. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi,” aku salah satu manajer di restoran tersebut.      

Bali juga bernasib sama dengan Sulut. “Sekarang order untuk membawa turis parah,” ungkap Steven, driver asal Manado yang telah puluhan tahun melayani transportasi turis di Bali ke berbagai obyek wisata. “Saya mau pulang Manado dulu. Pariwisata lesu,” katanya.

Thailand lebih parah lagi. Berbagai travel agent di sana berteriak. Banyak paket tour yang sudah dipesan, terlebih khusus dari wisman Cina dibatalkan. Penjualan souvenir pariwisata anjlok. “Sekarang orang lebih memburu untuk membeli masker daripada souvenir,” ungkap seorang tour guide di Thailand sebagaimana dilansir media setempat. Virus Corona seakan membuat dunia pariwisata ‘kiamat’. Padahal sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa Negara terbesar.  

Sulawesi Utara yang sempat dijuluki “the rising star” di sektor pariwisata nasional, kini harus keluar dari comfort zone (zona nyaman). Pemerintah Sulut di bawah nakhoda Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw (ODSK) bergerak cepat.

“Pariwisata Sulut belum kiamat karena corona,” tegas Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Utara,  Henry Kaitjily didampingi Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Pariwisata, Dino Gobel. Kaitjily mengakui, corona telah menjelma menjadi global catastrophic, dimana Pariwisata Sulawesi Utara ikut terkena imbas.

Padahal kontribusi sektor ini bagi pertumbuhan ekonomi di Bumi Nyiur Melambai mencapai 20-30 persen. Kaitjily menegaskan, Sulut tidak akan berpasrah diri. Pariwisata Sulut harus ‘melawan’ corona.  ”Kita harus mengambil langkah preventif dan ada solusi. Pak Gubernur (Olly Dondokambey) sangat tanggap dan langsung mengambil langkah-langkah preventif tehadap dampak virus tersebut, dan solusi juga terkait konektivitas masuknya turis agar tetap berlangsung,” ungkap Katjili dalam Forum Koordinasi Lintas Sektor Pariwisata yang dilaksankan di Rumah Alam Adventure Park, Kamis (13/02/2020).  

Salah satu langkah brilian yang dilakukan gubernur, katanya, adalah melobi Menteri Perhubungan sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan tarif  tiket penerbangan ke Sulut sampai 50 persen. “Dan dari rilis Kemenhub, tidak hanya Sulut, juga diberikan untuk Bali dan Batam.” Selain melobi Menhub dan berhasil, Pemprov Sulut perlu mengambil langkah strategis lainnya. “Corona terjadi bukan berarti kiamat,” tukasnya. Dari kasus yang berimbas secara global ini, “Kita harus menjadikannya bahan evaluasi apa yang harus kita lakukan,” lanjutnya.

Pertama, kata dia, yakni menggenjot kunjungan turis domestik atau nusantara dan menata obyek wisata lebih atraktif, serta membuka jalan baru, agar turis (non-Cina) bisa ke Sulut. Dikatakannya, Gubernur Sulut telah mendekati Jepang untuk membuka jalur penerbangan langsung ke Manado, sekaligus menjajaki masuknya juga turis dfari Taiwan, Korea dan Australia. “Jalur Kinabalu juga akan ditingkatkan,” katanya.  

Staf Khusus Gubernur Bidang Pariwisata, Dino Gobel mengatakan, Sulut kini membidik potensi turis domestik atau nusantara. Data yang diperoleh, ada 300 juta traveler nusantara yang melakukan wisata keliling Indonesia per tahun. “Sulut akan membidik 5 juta wisatawan nusantara ini,” kata Gobel optimis. Apalagi Sulut mendapat keuntungan atas hasil lobi gubernur ke Menteri Perhubungan, sehingga tiket pesawat domestik ke Sulut didiskon hingga 50 persen.   

Namun tiket murah itu belumlah cukup. Sulut perlu berbenah. Bagaimana melakukan promosi dan menata package wisatanya. Sinergitas sangat penting. “Jangan tiket sudah murah, namun paket wisatanya tidak siap dan asosiasi pariwisata tidak bersinergi,” ungkapnya.

General Manager Angkasa Pura I Bandara Sam Ratulangi Manado, Minggus Gandeguai mengamini bahwa potensi wisnu (wisatawan nusantara), masih terbuka. Menurut Minggus, wisnu dari daerah tertentu yang bisa ditarik ke Manado salah satunya dari Papua. Namun perlu dibuka jalur transportasi udara lebih luas ke kota-kota di sana. “Perlu ada penerbangan langsung (direct) Manado-Jayapura, Manado-Timika,” katanya.

Dia mengatakan, ada tiga bidang yang bisa mendongkrak pariwisata di Sulut yang menjadi daya tarik di  Papua. Yakni Pendidikan, Kuliner dan Bisnis. Untuk kuliner, daging babi diminati Papua. Di sektor pendidikan, tidak sedikit warga Papua yang menimba ilmu di sekolah dan perguruan tinggi di Sulut.

Menariknya, Minggus sempat menyentil soal sekolah internasional di Sulut seperti SMU Lokon dan MIS, yang kini ternyata banyak diminati siswa dari Papua yang mendapat beasiswa dari Freeport.  Apa yang disampaikan Minggus ini langsung direspons pihak Lion Air yang diwakili Anwar Olii. “Soal potensi rute Manado-Jayapura dan Timika ini akan segera kami laporkan ke direksi,” katanya seraya mengatakan, untuk saat ini memang Lion Group baru membuka jlur ke Papua via Sorong. Dan diakuinya, penumpang rute ke Papua memiliki prospek dimana rata-rata terisi 80 persen.

Sedangkan Mc Fee Kindangen dari Garuda mengatakan, ada potensi penumpang dari Gorontalo yang memanfaatkan penerbangan Manado-Davao yang telah dilayani Garuda. “Banyak pengusaha Gorontalo ke Davao selain dari Nusa Utara,” ungkapnya memberi masukan. Meski begitu, diakuinya perlu ada upaya khusus untuk terus meningkatkan jumlah penumpang Manado-Davao.

Benang merah yang perlu dilakukan adalah sinergitas berbagai stake holder pariwisata, termasuk hubungan pemda kabupaten/kota dan provinsi, terutama dinas pariwisata. Forum koordinasi yang digagas Dinas Pariwisata Sulut ini merupakan langkah yang baik untuk terus menciptakan sinergitas, serta membangun kebersamaan, serta menggali terobosan-terobosan baru dengan tujuan agar pariwisata Sulut tetap survive di tengah capastrophic global virus coronadi tahun 2020 ini. (frikopoli@yahoo.co.id)