oleh

NILAI BUDAYA UNGKAPAN DALAM BAHASA TOMBULU

Penulis: Dra. Siska Rambitan, M.Hum


Pendahuluan
            Dalam proses komunikasi ada sistem tanda atau lambang yang disepakati bersama oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Sistem tanda atau lambang tersebut mempunyai nilai atau acuan yang sama bagi yang berperan serta dalam komunikasi. Bahasa sebagai sistem simbol untuk berkomunikasi akan benar-benar berfungsi apabila pikiran, gagasan, konsep yang diacu atau diungkapkan lewat kesatuan dan hubungan yang bervariasi dari simbol itu dimiliki bersama oleh penutur dan penanggap tutur. Bahasa itu sendiri adalah sistem yang kita warisi atau peroleh dari kebudayaan dan masyarakat tempat kita tumbuh (Alwasilah, 1985).
            Hubungan antara bahasa dengan kebudayaan ialah bahasa merupakan sistem komunikasi, dan bahasa mempunyai makna hanya dalam kebudayaan sebagai wadahnya. Oleh karena demikian eratnya hubungan bahasa dan kebudayaan maka sering bahasa dijadikan tujuan untuk dapat dimengerti lebih mendalam mengenai pola-pola dan nilai nilai-nilai suatu masyarakat (Nababan, 1983). Selanjutnya, Djawanai dalam Alfian (1985) mengemukakan pula keterkaitan antara bahasa dan kebudayaan. Menurutnya kebudayaan dan bahasa selalu didapati bersama-sama, seiring, sejalan, saling mempengaruhi, dan saling mengisi.    
            Berdasarkan  uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ungkapan (idiom) sebagai bagian dari bentuk bahasa dapat pula dipahami berdasarkan budaya dimana bahasa itu digunakan.
            Tombulu merupakan salah satu kelompok etnis di Minahasa. Di Minahasa terdapat delapan etnis, yaitu Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Bantik, Bentenan, dan Ponosakan. Lima yang disebut pertama merupakan kelompok etnis asli asal Minahasa, sedangkan tiga lainnya terjadi karena adanya pembauran (Palar:1994). Kelompok etnis Tombulu berbahasa Tombulu. Bahasa Tombulu dipakai di bagian Barat Kabupaten Minahasa di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tomohon, Kecamatan Pineleng, Kecamatan Tombariri, dan Kecamatan Wori (Lalamentik, dkk, 1996). Dalam perkembangan sekarang ini, dari empat kecamatan yang disebutkan sebelumnya, tampaknya salah satu kecamatan, yaitu Kecamatan Wori tidak lagi menggunakan Bahasa Tombulu.
            Bahasa Tombulu tidak digunakan dalam acara resmi melainkan dalam pergaulan sehari-hari di rumah, di pasar, di jalan, dan di tempat umum lainnya seperti dalam pertemuan keluarga dan kegiatan arisan. Dalam percakapan sehari-hari dalam Bahasa Tombulu banyak digunakan ungkapan-ungkapan.             Ungkapan dapat diartikan sebagai konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna anggota-anggotanya  (Kridalaksana, 1993).  Selanjutnya Djayasudarma mengemukakan bahwa ungkapan merupakn unsur bahasa yang dapat menggambarkan budaya yang memiliki nilai yang sebagian menjadi pedoman atau larangan dalam aktivitas manusia yang berbudaya. Di samping itu, di dalam ungkapan ada pula nilai budaya yang berlaku umum pada masyarakat.
            Dalam penelitian ini diteliti nilai budaya yang mengandung makna dipedomani dan tidak dipedomani dari ungkapan yang digunakan oleh orang Tombulu dalam percakapan sehari-hari lebih khusus ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan anggota tubuh seperti  ma´paluka´an ‘bahu membahu’ merupakan ungkapan yang memiliki nilai budaya dipedomani yaitu orang Tombulu menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam aktivitas kerja.
Tinjauan Pustaka
            Penelitian ini mengkaji bahasa dalam hubungannya dengan budaya. Dengan demikian, kerangka teori yang digunakan adalah kerangka teori etnolinguistik. Menurut Sapir kebudayaan adalah apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh suatu masyarakat, sedangkan bahasa adalah bagaimana orang berpikir (1921).  Pengertian kebudayaan yang dikemukakan oleh Sapir ini sejalan dengan Spradley yang menyatakan bahwa kebudayaan adalah kumpulan pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh anggota suatu masyarakat. Pengetahuan itu berupa aturan-aturan yang mengatur cara masing-masing individu berhubungan dan menafsirkan lingkungan mereka ((1989). Selanjutnya Koentjaraningrat mengemukakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif (1990).
            Menurut Sapir dan Whorf dalam Crystal (1992) bahwa ada dua prinsip dalam bahasa, yaitu determinasi bahasa dan relativitas bahasa. Determinasi bahasa ialah bahasa cenderung menentukan cara kita berpikir dan relativitas bahasa yaitu struktur suatu bahasa cenderung menentukan cara penuturnya memandang dunia (1992:15). Dari hipotesis  ini dapatlah dipahami bahwa bahasa cenderung mempengaruhi kebudayaan dan cara berpikir penutur yang memakai bahasa tersebut.
            Selain menggunakan teori linguistik, penelitian ini menggunakan pandangan dari Pepper yang menyatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik dan yang buruk (Djajasudarma, 1997:11). Pendapat nilai yang menyangkut manusia sebagai subyek dikemukakan pula Perry yang menyatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subyek. Manusia sendiri yang menentukan nilai dan manusia sebagai pelaku dari kebudayaan yagng berlaku pada zamannya (Djajasudarma, 1997).
            Sistem nilai budaya merupakan nilai inti dari masyarakat yang dijunjung tinggi sehingga menjadi salah satu faktor penentu dalam berprilaku. Selanjutnya di dalam sistem nilai budaya biasanya terdapat berbagai konsepsi yang hidup di dalam alam pikiran sebagian besar masyarakat mengenai hal-hal yang dianggap bernilai dalam hidup. Oleh karena itu, suatu sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi sifat manusia. (Koentjaraningrat, 1990:203).
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2002) penelitian kualitatif menunjukkan pada segi alamiah yang dipertentangkan dengan kuantum atau jumlah. Selanjutnya dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Tujuan metode deskriptif untuk mendeskripsikan secara akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat hubungan antara fenomena yang diteliti. Dalam pelaksanaan peneltian, metode ini digunakan dengan beberapa langkah., yaitu pengumpulan data, klasifikasi, dan pembuatan laporan. Engumpulan data dilakukan melalui wawancara. Informan dalam penelitian ini yaitu penduduk asli tempat dilakukan penelitian, berusia sekitar 50 – 70 tahun, sehat jasmani dan rohani dan memiliki kesediaan waktu untuk diwawancarai.
            Untuk memperoleh data tentang ungkapan berkaitan dengan anggota tubuh Bahasa Tombulu  , peneliti mengambil lokasi di desa Suluan dengan pertimbangan Bahasa Tombulu masih cukup banyak digunakan terutama orang-orang yang sudah tua.
Hasil dan Pembahasan
Ungkapan dalam Bahasa Tombulu yang berkaitan dengan anggota tubuh masih aktif digunakan oleh masyarakat Tombulu lebih khusus di desa Suluan. Ungkapan Bahasa Tombulu memiliki bentuk bahasa yang mengandung arti kiasan dan menggambarkan prilaku seseorang atau kelompok masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk bahasanya singkat namun berisi. Melalui ungkapan disampaikan maksud yang panjang lebar dengan bahasa yang padat namun memiliki makna yang dalam, luas, dan tepat. Ungkapan tersebut biasanya dipakai oleh orang yang lebih tua untuk menyampaikan nasehat, pengajaran, dan peringatan terhadap anak-anak.
Nilai Budaya yang Dipedomani
Yang dimaksud dengannilai budaya dalam ungkapan yangpedomani ialah ungkapan-ungkapan tersebut menjadi contoh dan teladan yang baik bagi manusia untuk bersikap atau bertingkah laku hati-hati. Di bawah ini akan dikemukakan ungkapan-ungkapan berkaitan dengan anggota tubuh yang mengandung nilai yang dapat dipedomani .
– Sifat Rajin dan Suka Bekerja Keras
            Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia diisyaratkan rajin berusaha. Ungkapan berikut mengandung nilai budaya yang mencerminkan  kerja keras sebagai salah satu praktek budaya dan paling tidak merupakan cerminan realitas.
kimawal lengen                                  ‘tebal kulit tangan’
kimawal tu´mir                                   ‘tebal kulit tumit’
lambo´ a´e                                          ‘kaki panjang’
wawu´ na´e, wawu´ kero´an               ‘basah kaki, basah kerongkongan’
pera´ na´e, pera kero´an                    ‘kering kaki, kering kerongkongan’
rora´ lengen wo na´e                          ‘ringan tangan dan kaki
            Ungkapan-ungkapan yang menggunakan anggota tubuh seperti  a´e,  ‘kaki’ lengen ‘tangan’dan  kero´an ‘kerongkongan’digunakan dalam percakapan sehari-hari oleh orang Tombulu untuk menyatakan sifat rajin dan suka bekerja keras. Sifat rajin dan suka bekerja keras disimbolkan pada pola hidup orang Tombulu khususnya orang Suluan yang waktu lalu sebagian besar berprofesi sebagai petani. Biasanya pada waktu melakukan pekerjaan petani menggunakan anggota tubuh seperti tangan dan kaki. Karena pekerjaan petani berat seperti mencangkul, membajak, memaras rumput, menebang pohon dan sebagainya, sehingga kulit tangan menjadi tebal dan kasar. Demikian pula ketika pergi ke kebun harus berjalan kaki yang jauh sehingga mengakibatkan telapak kaki menjadi tebal dan kasar. Kulit tangan dan kaki tebal menggambarkan realitas petani yang bekerja keras. Hal ini dapat dilihat melalui wacana percakapan lengen wo na´e si paitua iti´i kimawalo katku´a si ma´ongkos se koki´ ma´sekola ‘kulit tangan dan kaki bapak itu sudah menjadi tebal karena harus membiayai anak-anaknya yang sedang sekolah’.
            Ungkapan lambo´ a´e ‘kaki panjang’ dikatakan kepada seseorang yang rajin bekerja. ‘kaki panjang’ mengacu kepada seseorang yang rajin bekerja. . lambo´ a´e ‘kaki panjang’ mengacu pada aktivitas seseorang seperti petani dimana ketika akan bekerja biasanya harus berjalan kaki yang jauh menuju ke sawah/kebun seperti yang tercermin pada wacana berikut si lambo´ na´e iti´i simepi tandei lake  ‘si kaki panjang itu berhasil panen jagung yang banyak’.
            Dalam tradisi upacara perkawinan orang Tombulu si penganten baru mendapat wejangan-wejangan atau nasehat dari  orang tua baik dari pihak mempelai wanita maupun dari pihak mempelai pria tentang dasar pembentukan rumah tangga yang baru. Sebagai contoh diungkapkan bahwa setiap rumah tangga yang baru tidak boleh lagi bersandar kepada orang tua, tetapi harus rajin bekeja untuk mendapatkan nafkah kehidupan. Petuah ini sering disampaikan dengan menggunakan ungkapan seperti berikut sa kimawengngo wawu´ na´e wawu´ kero´an, sa pera na´e pera kero´an ‘kalau sudah kawin harus basah kaki supaya kerongkongan menjadi basah, kalau kering kaki, maka kerongkongan  akan   kering. Ungkapan wawu´ na´e ‘basah kaki’ menunjukkan seseorang melakukan  kegiatan di sawah atau  di kebun sehingga kaki menjadi basah dan pada akhirnya akan memperoleh hasil.  Ungkapan wawu´ kero´an ‘basah kerongkongan’ mengandung makna jika seseorang bekerja dan memperoleh hasil, maka petani akan mempunyai  sesuatu untuk dimakan. Ungkapan ini mengandung makna jika seseorang rajin bekerja maka dia akan mendaptkan nafkah kehidupan seperti makanan. Tetapi, bila seseorang malas bekerja maka dia tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh seperti dalam ungkapan pera´ na´a, pera´kero´an  ‘kering kaki, kering kerongkongan’.
Kerjasama/gotong royong
            Sifat kerjasama/gotong royong  merupakan wujud kesetiakawanan, kebersamaan, dan kekompakkan menghadapi realitas kehidupan baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka. Ungkapan dengan anggota tubuh  berikut ini  mencerminkan nilai budaya yang bercirikan  kerjasama/gotong royong.
mationen lengen                                 ‘bergandengan tangan’
ma´paluka´an                                     ‘bahu membahu’
ka´sa suma, rora´ lengen                    ‘lebih banyak mulut, lebih cepat tangan’
            Tingkat kepeduliaan dan kerja sama orang Tombulu masih tinggi. Hal ini dapat dilihat melalui percakapan orang Tombulu yang menggunakan ungkapan sebagai berikut: meimo kita mationan lengen ma´paayang u lalan lewo´ ‘mari kita bergandengan tangan memperbaiki jalan yang rusak’. Memperbaiki fasilitas umum seperti jalan yang rusak dianggap sebagai tanggung jawab bersama dan harus dikerjakan bersama-sama atau bergotong royong. Hal yang sama pula dapat dilihat pada wacana setou sesanawanua mapapaluka´an ma´weresi u lalan dano ‘orang-orang kampung saling bahu membahu membersihkan saluran air’.
            Wujud kebersamaan dan kekompakkan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dapat dilihat pula melalui wacana meimo kita rewekenoma u pa´ayangenkenu soso´ kita ma´sirita, laker suma lebe rewek lengen ‘mari kita selesaikan pekerjaan itu sambil bercakap-cakap, karena lebih banyak mulut, lebih cepat tangan’.
            Kebersamaan, kekompakkan, kesesetiakawanan dan bekerja sama dalam melakukan suatu pekerjaan baik dalam peristiwa suka maupun duka masih menjiwai orang Tombulu. Hal ini  merupakan wujud dari budaya mapalus yang sampai saat ini masih dipegang dan diterapkan orang Tombulu dalam kehidupan bermasyarakat. .
 
Etika, Moral, dan Sopan Santun
Dalam ungkapan Bahasa Tombulu berkaitan dengan anggota tubuh banyak mengandung nilai-nilai etika, moral, dan bermakna sopan santun yang dapat dipedomani. Menurut Drever (1986)  etika adalah hukum yang membedahkan hal yang baik dan buruk dalam kelakuan manusia, sedangkan moral adalah ukuran baik buruknya tingkah laku yang menyangkut pengontrolan diri, keyakinan diri dan kedisplinan tindakan. Selanjutanya Bascom dalam Danandjaja mengatakan bahwa ajaran etika dan moral yang menjadi pedoman oleh suatu suku bangsa tercermin dari berbagai bentuk ungkapan yang berlaku dan berterima di kalangan suku bangsa itu. Penggunaan ungkapan adalah salah satu cara untuk mendidik anggota masyarakat, sebagai alat untuk melegalisasi pranata-pranata dan lembaga kebudayaan serta sebagai alat untuk pengawas norma-norma kemasyarakatan yang seharusnya diikuti dan diarifi (1986:32).
            Ungkapan Bahasa Tombulu berkaitan dengan anggota tubuh yang mengandung nilai etika, moral, dan bermakna sopan santun yang dapat dipedomani yang ditemukan dalam penelitian ini sebagai berikut:
ate weresi                                ‘hati bersih’
sela nate                                 ‘besar hati
nate teren                               ‘hati lurus’
jaga lila´                                 ‘pelihara lidah’
rate nulu´                               ‘kepala dingin’
rate lengen                             ‘tangan dingin’
le´os lengen                            ‘tangan baik’
            Ungkapan-ungkapan ini sering muncul dalam percakapan orang Tombulu khususnya yang berada di desa Suluan untuk menyatakan atau menggambarkan sifat atau prilaku seseorang yang baik dan dapat diteladani, sebagai contoh si tu´a wewene iti´i rora´ lengen ni sia pa´ar ma´sawang setou susah ‘ibu itu ringan tangan. Dia selalu mau membantu orang yang dalam keadaan susah’.
            Ungkapan ini pula digunakan dalam percakapan sebagai medium untuk menasehati atau memberikan pengajaran kepada orang lain, sebagai contoh sa ko manuwu´ pa´atorala u lila´mu, ta´a setou walina maupi ‘kalau kau berbicara pelihara lidahmu, jangan sampai orang lain merasa tersinggung atau marah’. Nada menasehati dapat pula dilihat dalam ungkapan sa ko tumulung setou susah peleng raraatemu ‘kalau kau ingin menolong orang susah harus segenap hati’.
 
Nilai Budaya yang Tidak Dipedomani
Nilai budaya dalam ungkapan yang tidak dipedomani  mengandung makna ungkapan tersebut harus dijauhi atau dihindari, tidak dapat dijadikan sebagai contoh atau teladan dalam bersikap dan bertingkah laku sehari-hari. Ungkapan dengan anggota tubuh yang mengandung nilai budaya yang tidak dapat dipedomani yang ditemukan seperti berikut:
Ungkapan                              Arti
nate leme´                               ‘hati busuk’
kete ate                                   ‘hati keras’
nate lewo´                               ‘hati jahat’
rora´ lengen                           ‘ringan tangan’
lambo´ lengen                         ‘tangan panjang’
pasu´ lengen                           ‘tangan panas’
rimbengbeng mberen              ‘mata gelap’
ki´it mberen                            ‘ikut mata’
rua ghio                                  ‘dua muka’
 tabal ghio                              ‘muka tebal’
ghio manero                           ‘cari muka’
ma´ema´edoan suma              ‘adu mulut’
laker suma                              ‘banyak mulut’
suma luma´ar                         ‘mulut gatal’
utek tumpul                             ‘otak tumpul’
kanyutekan                             ‘tidak ada otak’
pentak tu nulu                         ‘berlumpur di kepala’
pino´po´ tu nulu                      ‘menabur abu di kepala’
kete ulu                                   ‘kepala keras’
rimawak kurur             ‘memeluk-meluk lutut’
repi lunteng                            ‘telinga tepis’
a´e luma´ar                             ‘kaki gatal’
pasu´ sa´                                 ‘darah panas’
rei´ kasja´aperu                      ‘tidak ada empedu’
simalipupu we´wer                 ‘peluk-peluk dada’
            Ungkapan-ungkapan ini mengandung nilai budaya yang tidak dapat dipedomani yang harus dijauhi atau dihindari, tidak dapat dijadikan sebagai contoh atau teladan dalam bersikap dan bertingkah laku sehari-hari. 
            Ungkapan yang menggambarkan pelecehan nama keluarga dapat dilihat melalui ungkapan seperti pa´siasa´an ni koki´ iti´i makairangen, tanu ma´po´po´ u nawu tu nulu ne tu´a ‘perbuatan anak itu sangat memalukan, seperti menabur abu di kepala orang tuanya’. Tindakan ini merupakan suatu hal yang tidak baik dan harus dihindari sebab tidak sesuai dengan pola pikir orang Tombulu yang selalu menjunjung tinggi nama baik keluarga.
            Selanjutnya ungkapan yang menggambarkan sifat atau prilaku malas seperti pada wacana berikut seker nendo sitaretumou iti´i memenemenes simalipupu we´wer  ‘Setiap hari pemuda itu hanya berdiam diri di rumah sambil peluk dada’. Prilaku ini sangat bertentangan dengan sifat orang Tombulu yaitu rajin bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
            Ungkapan yang menggambarkan seseorang yang mudah marah atau menjadi kalap dapat dilihat dalam wacana berikut ca´mo makaria si tou iti´i, katku´a si sa´ pasu´  ‘jangan bergaul dengan orang itu, sebab dia darah panas’. Perselisihan atau perkelahian sering terjadi karena seseorang memiliki sifat atau prilaku darah panas atau mudah marah. Sifat atau prilaku ini tidak patut dicontohi sebab tidak sesuai dengan pola hidup orang Tombulu yang saling menghargai dan menghormati orang lain dan selalu ingin hidup rukun antar sesama warga.
            Ungkapan yang menggambarkan prilaku seseorang yang banyak berbicara namun kurang bekerja seperti si paitua iti´i laker suma zei´ ma´pa´ayang   ‘bapak itu cuma banyak mulut tapi tidak mau bekerja’. Ungkapan ini mengandung makna seseorang yang banyak mengeluarkan ide atau usul-usul namun tidak mau bekerja. Sifat atau prilaku ini tidak layak dicontohi sebab tidak sesuai dengan pola pikir orang Tombulu yang selalu mengutamakan kerja keras dalam kehidupan sehari-hari.
            Ungkapan yang menggambarkan sifat seseorang yang suka mencuri atau mengambil barang orang lain seperti sitaretumou iti´i kaso´o ne kariana katku´a lambo´ lengen   ‘pemuda itu tidak disukai oleh kawan-kawannya karena tangan panjang’. Mencuri adalah suatu perbuatan atau tidakan seseorang untuk mendapatkan suatu barang yang dibutuhkan atau diinginkan dengan cara mudah. Hal ini bertentangan dengan pola pikir orang Tombulu yang selalu berusaha kerja keras untuk memperoleh nafkah kehidupan.
            Ungkapan-ungkapan yang mengandung makna tidak dipedomani yang berhasil dikumpul digunakan dalam percakapan sehari-hari orang Tombulu terutama  orang tua. Ungkapan ini digunakan untuk memperhalus ucapan yang ingin disampaikan oleh seseorang tentang sifat atau tindakan orang lain yang tidak baik seperti orang yang suka mecuri  disebut lambo´ lengen  ‘tangan panjang’, orang yang sulit memberi atau menolong orang lain disebut wuter lengen  ‘berat tangan’, dan orang yang senang berbicara tentang keburukan orang lain disebut suma luma´ar ‘mulut gatal’.
 
Simpulan
            Ungkapan dalam Bahasa Tombulu berkaitan dengan anggota tubuh mengandung nilai budaya yang dapat dipedomani dan nilai budaya yang tidak dapat dipedomani. Ungkapan yang mengandung nilai budaya yang dapat dipedomani perlu diajarkan, disampai-sampaikan secara turun temurun baik kepada generasi sekarang maupun generasi yang akan datang kaitan dengan sifat kerja keras, menjunjung tinggi kerja sama, gotong royong serta pendidikan moral dan etika yang dapat membentuk pribadi masyarakat yang berbudaya..
            Ungkapan dalam Bahasa Tombulu yang mengandung nilai budaya yang tidak dapat dipedomani diharapkan supaya dihindari, dijauhi, tidak dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kepustakaan
Alfian. 1985. Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan. Gramedia. Jakarta
Alwasilah, C.A. 1985. Sosiologi Bahasa. Angkasa Bandung
Chaer, A. 1981. Pengantar Semntik Indonesia. PT. Gramedia. Jakarta
Crystal, D. 1992. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge University Press Cambrigde
Djajasudarma, F.T.E, dkk. 1997. Nilai Budaya dalam Ungkapan dan Peribahasa Sunda. Pusat             Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta
Koentjaraningrat, H. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru. Jakarta
Kridalaksana, H. 1982. Kamus Linguistik. Pt Gramedia. Jakarta
Lalamentik, W.H.C.M, dkk. 1985/1986. Morfologi dan Sintaksis Bahasa Tombulu. Manado: Proyek         Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah. Sulawesi Utara.
Moleong, L. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda
Sapir, E. 1921. Language: An Introduction to the Study of Speech. Harcourt, Brace and Company. New           York.


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *