oleh

Motivasi Belajar Bahasa Jerman

Penulis: Donna R.M.Timboeleng
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi Manado
 
Penulisan ini bertujuan menyelaraskan motivasi pembelajar, proses belajar dan hasil yang ingin dicapai pada akhir pembelajaran bahasa asing khususnya Bahasa Jerman. Di era sekarang ini, penguasaan bahasa asing sudah menjadi kebutuhan bahkan keharusan. Bahasa Inggris sudah menjadi Bahasa asing yang digunakan sehari-hari. Akan tetapi itu ternyata tidak cukup. Kebutuhan pasar mendorong pembelajar membutuhkan penguasaan Bahasa asing ke dua. Dalam tulisan ini Bahasa asing ke dua tersebut adalah Bahasa Jerman.
Di Indonesia, pengajaran Bahasa Jerman sudah dilaksanakan secara formal dan informal. Secara formal di tingkat sekolah menengah, baik SMA maupun SMK, juga sampai di tingkat Perguruan Tinggi. Secara informal, Bahasa Jerman diajarkan di tempat tempat kursus. Tulisan ini mau menunjukkan hubungan motivasi belajar dan hasilnya di tingkat Perguruan Tinggi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini merambah ke media-media sosial yang menjadi wadah masyarakat memperoleh informasi lebih cepat. Baik informasi di dalam negeri yaitu Indonesia, namun juga informasi luar negeri. Hal ini yang mendorong masyarakat secara khusus kalangan muda berusaha untuk memiliki kompetensi bahasa asing, secara khusus bahasa asing kedua semisal Bahasa Jerman. Hal ini dipicu untuk memperoleh informasi yang cepat dan terkini, sehingga belajar asing dalam hal ini Bahasa Jerman untuk dapat memahami informasi atau berita dari bahasa sumber atau aslinya. Ini hanya salah satu motivasi pembelajar Bahasa Jerman di Perguruan Tinggi. Negara Republik federal Jerman, salah satu negara di Eropa, dengan kemajuan teknologi yang pesat, menjadi acuan negara-negara di dunia dalam perkembangan di bidang ini, sehingga banyak pembelajar yang memandang perlu belajar Bahasa Jerman untuk dapat mengembangkan pengetahuan di bidang pengetahuan teknologi dan juga alih teknologi.
Pada dasarnya keberhasilan pembelajaran tidak hanya terletak pada penguasaan guru akan materi dan metode pembelajaran, namun juga pada motivasi belajar dari pembelajar. Motivasi  belajar  bahasa  kedua  sangat menentukan  seseorang  dalam  proses  belajarnya.  Motivasi  ini  yang  membedakan seseorang  akan  berhasil  atau  gagal  dalam  belajar  bahasa  kedua. Motivasi pembelajar itu bermacam-macam. Demikian juga bagi pembelajar Bahasa Jerman. Di samping motivasi pembelajar Bahasa Jerman yakni memperoleh informasi dari sumber aslinya, pembelajar yang lain menyatakan motivasinya  adalah agar mampu berkomunikasi dengan bahasa yang dipelajarinya dan mampu bersaing di dunia internasional dengan berbagai latar belakang kemampuan bahasa asing di antaranya Bahasa Jerman. Hal ini bagian dari persiapan diri untuk masuk dalam pasar kerja internasional. Motivasi lain yaitu ingin melanjutkan Pendidikan lebih tinggi ke negara Jerman, dan ada juga yang ingin pergi dan tinggal di negara Jerman. Namun ada juga yang mempunyai motivasi karena mengikuti keinginan orangtua. 
Eviyanti (2001), menjelaskan alasan pentingnya belajar Bahasa Jerman sebagai berikut:
1.Bahasa Jerman adalah bahasa yang paling penting dalam melakukan hubungan bisnis atau perdagangan apabila ditunjang dengan jaringan dan partner bisnis yang begitu luas.;
2.Bahasa Jerman adalah bahasa yang paling banyak dipakai di benua Eropa terlebih dalam melakukan hubungan Internasional.
3.Bahasa  Jerman  berperan  penting  dalam  pengembangan  IPTEK.  Indikasi  ini tergambar dari tingginya tingkat penelitian dan teknologi Jerman.
4.Bahasa Jerman adalah bahasa yang membuka wawasan kebudayaan Internasional.
5.Bahasa  Jerman  membuka  pintu  ke  bangku  perkuliahan  di  universitas  Jerman. Keterbukaan  terhadap  mahasiswa  luar  dan  komitmen  tinggi  pada  pendidikan, memberikan ‘jalan lapang’ bagi mereka yang bisa berbahasa Jerman.
6.Bahasa  Jerman  memberikan  kesempatan  berkarir  di  tingkat  Internasionalditambah jaringan usaha yang luas.
7.Bahasa  Jerman  berperan  dalam  pengembangan  keparawisataan.  Banyak  turis Jerman maupun Negara Eropa lain yang juga menggunakan bahasa Jerman sering berlibur ke Indonesia. 2 / 6
8.Bahasa Jerman memberikan peluang tinggal di Jerman sebagai Au-Pair selama 1 tahun.
Sebelum lanjut, perlu dipahami dulu apa itu motivasi. Di samping kata  motivasi diketahui  juga istilah  motif.  Antara  motif  dan  motivasi ternyata mempunyai kaitan yang erat dan dalam pengertiannya tidak dapat dibedakan secara tegas.
Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia  (2016) menyatakan  bahwa ”Motif  adalah alasan
(sebab) seseorang melakukan sesuatu. Sedangkam motivasi dikatakan sebagai ”dorongan yang  timbul  pada  diri  seseorang  secara  sadar  atau  tidak  sadar  untuk  melakukan  sesuatu tindakan  dengan  tujuan  tertentu”. Dalam  konteks  ini  ternyata  antara  motif  dan  motivasi ada keterkaitan yang sangat erat. Menurut   Sardiman   A.M   (1996:73)   motif   diartikan   sebagai   upaya   mendorong seseorang  untuk  melakukan  sesuatu  serta daya  penggerak  subjek  melakukan  aktivitas tertentu  untuk  mencapai  tujuan. Menurut  Frederick  J.Mc  Donald,  motivasi  merupakan suatu  perubahan  seseorang  yang  ditandai  dengan dorongan  efektif dan  reakstif  untuk  mencapai tujuan (Wasty   Soemanto,   1990:194).   Sedangkan   Rohman   Natawijaya   (1979:79) menyatakan  bahwa  motivasi  merupakan  suatu  proses  untuk  menggiatkan  motf  menjadi perbuatan untuk memuaskan kebutuhan yang menjadi tujuan.
Jadi, berdasarkan   berbagai   pendapat   tersebut   di   atas   ternyata   terdapat   beberapa
persamaan  tentang  motivasi,  yaitu  sebagai  pendorong  atau  penggerak  untuk  berperilaku dalam  mencapai  tujuan. Oleh  karena  itu,  dapat  disimpulkan  bahwa  motivasi  adalah dorongan, penggerak untuk berperilaku, bertindak, berkelakuan dan merupakan kekuatan bersumber pada keinginan individu untuk meraih suatu tujuan.
Ada beberapa pendapat tentang motivasi belajar. Menurut  Finegan  (2004:560)  terdapat  dua  macam  motivasi  pembelajar  dalam belajar bahasa kedua. Pertama, motivasi pelengkap (instrument  motivation). Motivasi ini mendukung pembelajar dalam membantu proses belajar bahasa kedua dengan cara pembelajar  membaca buku-buku ilmu pengetahuan, menyanyi ataupun menonton film dengan materi bahasa kedua. Motivasi ini hampir dimilki oleh setiap pembelajar bahasa kedua karena motivasi ini hanya memerlukan sedikit rangsangan dari luar untuk belajar bahasa kedua tanpa berhubungan dengan komunitas dengan pengguna bahasa kedua. Motivasi kedua adalah motivasi keseluruhan (integrative motivation). Motivasi ini sangat berbeda dengan motivasi pertama dimana motivasi ini lebih kuat bagi pembelajar untuk  belajar  bahasa  kedua.  Hal  ini  dikarenakan  pembelajar  langsung  terjun  ke komunitas pengguna bahasa kedua. Mau tidak mau dapat berkomunikasi dengan bahasa kedua.
Ada yang  membagi  motivasi  dalam  dua  jenis, antara lain Singgih  D Gunarso, (1989:100)  yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang menyatakan bahwa:
1.     Motivasi  intrinsik  adalah  dorongan  dari  dalam  diri  individu  yang  menyebabkan  ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Dorongan ini biasanya merupakan bawaan sejak lahir sehingga tidak dapat dipelajari . Motivasi intrinsik akan bertahan lebih lama bila dibandingkan dengan motivasi lainnya. Adapun faktor-faktor yang dapat mendukung antara  lain:  bakat,  prestasi;  fisik;  keterampilan;  kedisiplinan;  pengetahuan;  hobi  dan psikologis.
2.              Motivasi ekstrinsik adalah dorongan dari luar diri individu yang menyebabkan individu berpartisipasi dalam  suatu kegiatan. Dorongan ini bisa berasal dari guru atau orang lain seperti instruktur/pelatih; orang  tua;  hadiah;  teman;  sarana  prasarana.  Motivasi  ekstrinsik  dapat  dipelajari  dan tergantung pada besarnya nilai penguat dan kemungkinan besar bisa membangkitkan motivasi intrinsik seseorang.  Adapun  faktor-faktor  pendukung  motivasi  ekstrinsik, antara  lain:  orang  tua;  sarana  prasarana;  teman;  guru  dan  waktu  luang. Kajian ini menggunakan teori dari singgih D, Gunarso.
Berdasarkan  uraian  tersebut  maka  dalam  rumusan  masalah  yang  diajukan   adalah:  seberapa  besar  motivasi  pembelajar dalam  mengikuti mata kuliah Bahasa Jerman sebagai Bahasa Asing ke dua? Sejalan  dengan  rumusan  masalah  tersebut,  maka  tujuan  yang  ingin  dicapai  dalam penulisan ini  adalah  untuk  mengetahui  motivasi  mahasiswa  dalam  mengikuti mata kuliah Bahasa Jerman.
Untuk melihat motivasi belajar Bahasa Jerman sebagai Bahasa ke dua, pengajar menyebarkan angket pada pembelajar di awal proses pembelajaran. Angket tertutup diberikan kepada mahasiswa jurusan sastra Inggris yang mengambil mata kuliah Bahasa Jerman sebagai Bahasa Pilihan. Kemudian  pengajar menganalisis angket dari pembelajar Bahasa Jerman.
Kesimpulan
Dari 32 jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah Bahasa Jerman sebagai bahasa pilihan, ini hasil angket tingkat motivasi mahasiswa mengambil Mata Kuliah Bahasa Jerman sebagai Bahasa Pilihan:
Interpretasi Hasil Pembahasan
Dari pembahasan atau analisis yang ditinjau dari motivasi intrinsik 30 orang atau  93,8%  berkategori  “tinggi”  dan  hanya  2  orang  atau  6,2%  berkategori  “rendah”.
Untuk  motivasi  ekstrinsik 31  orang  atau  96,9%  berkategori  “tinggi”  dan  1 orang atau 3,1% berkategori “rendah”.
Pembahasan Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar motivasi mahasiswa dalam  mengikuti  mata  kuliah  Bahasa Jerman pilihan  (95,4%)  berkategori  “tinggi” dan hanya sebagian kecil saja (4.6%) berkategori “rendah”.
Berdasarkan hasil analisis angket, maka dapat ditarik  suatu  kesimpulan bahwa  sebagian  besar  motivasi  mahasiswa  belajar Bahasa Jerman sebagai Mata Kuliah Pilihan pada Jurusan sastra Inggris saat ini termasuk dalam kategori “tinggi”.
 
 

DAFTAR PUSTAKA
Douglas. B.H. 2001. Teaching by Principles. New York. Longman.
Finegan, E.  2008, Language: Its Structure and Use, Fifth Edition. Thomson Wadsworth. Michael Rosenberg. Boston, MA 02210-1202 USA

Gunarso, S.D. 1989, Psikologi Kerawatan. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Herber J., K.  (1985). Educational Psychology. 5th ed. New York: Harper
&RowPublishers.
 
KBBI, 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). [Online] Available at: http://kbbi.web.id/rehabilitasi

McDonald, F.J. 1959, Educational psychology. Wadsworth Publishing Company INC.

http://jakarta.daad.de/inhalt_i/belajar_bhs_jer.htm.

Natawidjaja, R. 1979. Alat Peraga dan Komunikasi Pendidikan. Departemen Pendidikan. Jakarta

 
Yelon, S.C.& Weinstein,G.W.(1977). A Teacher’s World. Psychology in the Classroom. Tokyo: Mc Graw Hill Book Kogakusha Ltd.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *