oleh

Makna Pilkada Ketiga di Mata Hanny Joost Pajouw

HANNY Joost Pajouw yang populer dengan inisial HJP, tergolong politisi termuda di antara para kandidat yang akan bertarung di Pilkada Manado 2020. HJP dilahirkan 24 Juni 1978 silam. Dia kini berusia 42 tahun.

Kandidat muda lainnya yang telah menyatakan maju di Pilwako Manado 2020 adalah Mor Baastian dan Harley ‘Ai’ Mangindaan. Mor yang dilahirkan 17 Maret 1974 silam kini menginjak usia 46 tahun, dan Ai Mangindaan 45 tahun (lahir 29 Oktober 1975).

Jika ditakar dari usia, HJP memang belia. Namun dalam merenda jejak Pilkada, HJP sudah banyak makan asam garam. Pilkada 2020 ini merupakan Pilkada ketiga baginya.  

Pada Pilkada pertamanya dia diusung Partai Golkar berpasangan dengan Anwar Panawar. Pilkada selanjutnya, HJP diusung PDIP berpasangan dengan Tonny Rawung. Dua pilkada ini, HJP kalah.

Pada Pilkada 2020 ini, HJP diusung Partai Demokrat berkoalisi dengan PAN. HJP maju sebagai calon wakil walikota, berpasangan dengan petahana Mor Bastiaan. Lalu apa makna ketiga Pilkada bagi HJP?

Menurutnya, Pilkada yang dilewatinya ibarat membangun sebuah rumah. ”Bagi saya di Pilkada pertama saya ibarat membangun fondasi rumah. Pada Pilkada kedua, ibarat membangun dinding rumah. Dan sekarang ini di Pilkada ketiga, menutup atap rumah (selesai membangun rumah),” katanya berfilosofis.

Duet Mor-HJP sendiri makin populer di mata masyarakat. Paduan dua politisi muda yang berbasis pengusaha ini, disebut-sebut akan mampu menciptakan kepemimpinan yang senada dan sepikir dalam membangun Kota Manado.   

Menarik mendengar pernyataan Wakil Sekretaris Partai Demokrat Sulut, Billy Lombok yang mengatakan, berpasangannya Mor dan HJP dibangun lewat komunikasi santun kedua kandidat yang ternyata sama-sama merasa memiliki satu visi dalam membangun kota. “Tidak pakai perjanjian politik, tapi ketemu karena satu visi,” ungkap Lombok. (vil/sbr)