oleh

Kisah Tarsius dan Yaki ‘Jual Mahal’ di Tangkoko

JUMAT (5 Maret 2021) sore sekira Pukul 16.00 Wita, sebuah bus pariwisata berkapasitas 26 seat memasuki jalan mulus Desa Batu Putih, Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung. Penumpang bus ini adalah kalangan wartawan, youtuber dan staf dari Kementrian Pariwisata bersama Dinas Pariwisata Sulut. Salah satunya adalah penulis.

Selain bus, rombongan kami menggunakan dua mobil kecil. Rombongan adalah peserta Simulasi Wisata Insentif CHSE yang menjadi bagian dari sektor pariwisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Acara yang digagas Kementrian Pariwisata ini tujuannya untuk melihat dan mempraktekkan penerapan CHSE dalam melakukan perjalanan wisata insentif. CHSE adalah singkatan dari Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan).

Pedoman CHSE MICE ini untuk mempersiapkan kegiatan pariwisata di tengah pandemi Covid-19. Pedoman yang dibakukan ini bagian dari upaya Kemenparekraf agar perekonomian di sektor bisnis pariwisata kembali bergairah dengan tetap menjaga agar tidak terjadi penyebaran virus corona bagi turis dan pelaku usaha pariwisata.

Penulis (kanan) berpose sebelum masuk dalam kawasan hutan konservasi Tangkoko.

Sunyinya Desa Batu Putih sebagai gerbang masuk hutan wisata Tangkoko dari berbagai kendaraan yang datang sebagaimana yang kami temui, imbas dari pandemi. Pemandu wisata lokal di hutan wisata itu mengakui, jumlah turis merosot drastis seiring pandemi. Homestay yang berjumlah ratusan, bahkan ribuan kamar milik penduduk desa setempat, lebih banyak kosong. Padahal sebelum pandemi, pengunjung yang datang mencapai ribuan orang ke desa tempat transit kendaraan untuk turis masuk ke lokasi ekowisata tersebut.

TARSIUS & YAKI

Meski rombongan kami adalah ‘turis simulasi’ untuk CHSE MICE, namun kesempatan untuk melihat dua primadona di hutan itu tidak ingin kami lewatkan. Yakni Tarsisus Spectrum atau Tangkasi dan Monyet Hitam Sulawesi atau sebutan orang lokalnya, Yaki.

Tarsius dan Yaki ini adalah satwa yang sudah mendunia. Terlebih Tarsius, salah satu primata terkecil dunia pemilik mata besar. Untuk melihat “Tarsius Show” kita harus masuk ke kawasan hutan sore hari sampai malam, karena di saat itulah Tarsius keluar mencari makanan.

Monyet Hitam Sulawesi (Yaki) di TWA Tangkoko yang difoto penulis.

Di gerbang Hutan Wisata Alam itu, kami disambut dua ranger—pemandu lokal yang menguasai habitat di dalam hutan wisata. Karena hujan, kami memakai baju hujan dari bahan plastik berwarna biru. Ditambah masker yang kami pakai, penampilan rombongan kami terlihat seperti petugas satgas Covid-19 yang akan menjemput pasien. “Kita ini terlihat seperti peneliti dan petugas Covid dari WHO,” celetuk seorang wartawan berkelakar.

Selain pakaian pelindung hujan, rombongan juga dilengkapi APD (alat pelindung diri) lain, yakni autan tisu. Autan tidak terkait Covid, namun untuk menangkal dari serangan kutu di dalam hutan Tangkoko yang disebut gonone. “Jika diserang gonone, gatalnya minta ampun,” kata Roy Koleangan, Youtuber “Manado CRTV” yang juga seorang guide senior dan mantan Ketua HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Sulut.

Tarsius atau Tangkasi yang menjadi primadona di TWA Batu Putih Tangkoko

.Kami cukup tertolong dengan informasinya bersama tour guide yang mendampingi rombongan, Eron Sumampow. Mereka berdua sudah sering membawa turis ke Tangkoko. Namun untuk masuk ke dalam hutan, kami harus dibantu dua orang specialized guide untuk kawasan hutan tersebut.

Saat masuk hutan ‘memburu’ Tarsius dan Yaki, rombongan kami terbagi dua. Kalangan wartawan bersama Kepala Seksi dari Dispar Sulut, Sonny Sumual, masuk duluan dengan seorang ranger, sedangkan rombongan kecil (Pak Aldo Sumolang—trainer dari Kemenparekraf) lainnya menyusul di belakang, didampingi ranger kedua.

Singkat cerita, kami pun masuk ke dalam kawasan hutan dengan semangat 45. Jalanan masuk sudah dipaving. Namun karena hujan, di beberapa tempat digenangi air dan becek. Sehingga kami kerap harus mengambil jalan di luar paving.

Ketika 25 menit berjalan, biasanya para turis sudah disambut para Yaki. Tapi saat itu, mereka seakan raib. Sedangkan untuk melihat Tarsius, kita masih harus masuk lagi lebih dalam ke hutan. “Sekitar 30 sampai 40 menit berjalan untuk bisa melihat di lokasi yang biasa mereka terlihat,” ungkap si ranger. Tapi kalau tidak juga terlihat, katanya, masih harus masuk lagi lebih ke dalam. Sekira sejam jalan kaki bahkan lebih.

Patung Alfred Russel Wallace di dalam TWA.

Pergerakan dengan baju bak ‘astronot’ membuat keringat cepat keluar. Suasana hujan dan hari yang mulai gelap, membuat rombongan sempat akan menyerah. Di tengah jalan atau sekira 25-30 menit berjalan, kami berembuk. Mau terus atau mundur? Padahal saat itu baik Yaki maupun Tarsius belum menampakan hidungnya.

Namun karena masih penasaran, apalagi ada anggota rombongan yang belum pernah melihat langsung Tarsius, diputuskan untuk tetap maju terus. Tapi sekira 10 menit berjalan, tiga personil dari rombongan memilih untuk mundur. “Kami sudah pernah melihat Tarsius sebelumnya,” aku seorang anggota rombongan.

Sedangkan rombongan mayoritas, bahkan beberapa di antaranya wanita, tetap bersemangat untuk terus. Demi si Tarsius, hewan imut yang sudah mendunia. Dengan demikian rombongan terbagi tiga kelompok.

Saat itu rombongan Pak Aldo Sumolang sedang bergerak dari belakang. Menariknya, rombongan Pak Aldo ini malah sudah bertemu dan melihat Yaki. Misi mereka selanjutnya adalah Tarsius. Mereka kemudian bertemu dengan kelompok yang mundur dan memberikan informasi ada Yaki yang muncul di sekitar parkiran mobil, tepatnya di depan gerbang masuk hutan wisata.

Sementara rombongan di depan sudah berjalan sekira 40 menit. Mereka sudah berada di lokasi yang biasanya Tarsius muncul. Ranger sudah mengendus keberadaan mahluk yang banyak beraktivitas dan tidur di pepohonan itu. Tapi melihat rombongan dengan pakaian bak astronot, mereka masih bersembunyi. Lagian mereka juga sudah jarang melihat manusia, seiring merosotnya kunjungan turis di Tangkoko seiring pandemi.

Sebagian anggota rombongan Simulasi Wisata Insentif dengan penerapan CHSE MICE yang digagas Kementrian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Sulut.

Sambil mengintai Tarsius yang masih malu-malu untuk keluar, para wartawan pun sudah menyiapkan ‘senjata buruannya’ yakni kamera dan video untuk mengabadikan momen langka tersebut. Di sisi lain, si Tarsius masih takut untuk keluar dengan keberadaan orang. Yang terjadi, Turis Simulasi vs Tarsius saling awas-mengawasi, hehehe.

Tapi sudah menunggu cukup lama, si Tarsius yang cuma semata wayang itu, masih enggan juga menampakkan dirinya. Ranger pun berupaya dengan pengalamannya untuk memancing si Tarsius keluar. Kayu yang dilibaskan, tak membuatnya keluar.

Sehingga ranger kemudian mencari serangga (makanan kesukaan Tarsius) hidup-hidup untuk diumpankan. Tapi lagi-lagi, sudah diberi menu ‘dinner’ lezat, si Tarsius tetap jual mahal. “Ini kasus yang unik dan aneh. Biasanya kalau sudah diberi belalang, dia langsung melompat keluar dan memakannya,” ungkap Roy Koleangan.

Hal itu membuat rombongan harus bersabar sambil tetap menyiapkan senjata. Pasalnya, Tarsius ketika melompat keluar, biasanya tidak lama momennya. “Lamanya juga kami menunggu.” Ungkap Allan, salah satu anggota rombongan. Secara terpisah, rombongan Pak Aldo yang berada di belakang, berhasil menjangkau tempat tersebut. Menariknya, begitu Pak Aldo bergabung, hanya beberapa menit kemudian, si Tarsius kemudian keluar. “Wah, Pak Aldo membawa mujur. Begitu Pak Aldo ada, dia langsung keluar,” ungkap seorang anggota rombongan.

Tak hitung tiga, momen itu langsung dimanfaatkan untuk merekam dan menjepret si primata tersebut, sampai kemudian dia melompat bersembunyi kembali. “Agak nakal juga Tarsius itu,” kata Pak Aldo ketika menunjukkan hasil jepretan di kamera handphonenya kepada saya. Hasil fotonya kurang jelas, namun begitu Pak Aldo mengaku sudah bersyukur karena bisa melihat langsung untuk pertama kalinya Tarsius beraktivitas.

Sementara rombongan yang sebelumnya mundur ketika balik ke tempat parkir mobil, juga mendapatkan pemandangan unik. Seekor Yaki terlihat sedang berada di kap mobil Innova, milik rombongan. Dia bahkan sempat mengintip dengan ke dalam mobil dari kaca depan.

Namun begitu melihat ada orang berbaju mirip astronot datang, tiba-tiba dia turun. Tapi tidak segera lari. Monyet yang cukup besar itu bercokol di bawah pohon sekira 3-4 meter dari mobil.

Momen tersebut tak disia-siakan. Salah satu wartawan mencoba mendekatinya, untuk mengambil foto dengan jarak 3 meter. Lucunya, saat diambil foto dengan gaya selfie (swafoto) berlatar si monyet, dia juga seakan jual mahal bak si Tarsius. “Setiap kali difoto, monyet itu membuang muka, seakan tidak mau wajahnya terlihat,” aku Steven, wartawan dari media online Monitor Sulut. Nanti beberapa kali difoto, akhirnya si Yaki itu mau juga memperlihatkan mukanya.

Yaki itu tidak sendirian. Di atas pohon, banyak rekan-rekannya yang mengawasi. Namun hanya si Yaki yang difoto itu bernyali untuk mendekati manusia. Melihat gelagat tersebut, seorang anggota rombongan pun nyeletuk bercanda. “Mungkin dia itu raja kelompok mereka atau tim intelijennya.”

Seperti diketahui, monyet sifatnya berkelompok. Menurut peneliti yang ditemui dalam TWA tersebut, ada banyak kelompok monyet di dalam hutan Tangkoko. Dan yang sering dan berani muncul ada dua kelompok besar. “Jumlah per kelompok ada yang lima puluhan jumlahnya, ada yang lebih,” katanya. Sebab itu, dimintanya jangan terlalu mendekat dengan mereka, karena kalau mereka marah atau menyerang biasanya berkelompok.

Mereka tidak boleh dibarikan makanan. Jikea diberikan, mereka akan terus mendekat bahkan sedikit ‘memaksa’ dan si pemberi makanan akan jadi perhatian kelompok mereka. Itulah sebabnya pengunjung dilarang memberikan makanan kepada Yaki di Hutan Wisata Tangkoko, Desa Putih tersebut.

Jam 7 malam, akhirnya rombongan kami meninggalkan Batu Putih. Dari tiga kelompok yang berkunjung, satu kelompok bisa melihat Tarsius namun tidak melihat Yaki. Kelompok kedua, melihat Yaki tapi tidak menyaksikan Tarsius. Sedangkan kelompok yang satunya (Pak Aldo), beruntung bisa melihat kedua primadona penghuni hutan Tangkoko tersebut.

Hutan wisata Batuputih sendiri memiliki areal seluas 615 hektar. Selain bisa melihat keberagaman flora dan fauna di dalamnya dengan cara berjalan, kita juga bisa berkemah dan melakukan kegiatan outbound. Hebatnya, kawasan ini ada pantainya juga.

Kawasan konservasi di Tangkoko ada empat. Selain Batuputih, ada Batuangus dengan luas total 3.196 hektar. Meliputi Gunung Tangkoko Batuangus dan sekitarnya yang merupakan Cagar Alam dengan luas total 4.299 hektar (meliputi Gunung Duasaudara dan sekitarnya).

Batuangus dengan 635 hektar (terletak di antara Cagar Alam Tangkoko dan Desa Pinangunian. Kehidupan satwa liar di kawasan Tangkoko sudah diketahui secara luas dan dikunjungi oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1861. Patung Wallace ada di dalam Hutan Wisata Tangkoko. Patung itu dibuat untuk memperingati 100 tahun masuknya peneliti terkenal dunia tersebut di hutan Tangkoko.  

Topografi Tangkoko memang unik dan menarik dengan berbagai satwa endemik. Di dalamnya ada hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan, dan hutan lumut. Luar biasa aset alam yang diberikan Tuhan untuk Sulawesi Utara ini. (friko poli)