oleh

Jurani Rurubua Ternyata Pernah Juara 1 Baca Puisi dan Ayat Alquran

SETIAP orang memiliki kenangan masa kecil indah yang tak terlupakan. Bahkan kadang kenangan itu, berperan besar dalam membentuk cara pandang seseorang hingga dia dewasa. Menarik kisah yang diceritakan Anggota DPRD Kota Manado, Jurani Rurubua, terkait kenangan tak terlupakan di masa kecilnya yang turut mempengaruhi cara pandangnya tentang toleransi.  

Jurani dalam akun facebooknya mengatakan, di masa kecilnya dia ternyata pernah menjuarai sebuah lomba yang kesenian Islam. “Sejak kecil saya suka berlomba, sehingga di rumah saya dan di rumah mami saya ada beberapa piala yang saya dapat,” katanya memulai kisahnya.

Dari sekian piala yang didapatnya dalam perlombaan, Rani—sapaan akrabnya mengaku ada satu 1 piala dan penghargaan yang tidak akan pernah dilupakannya dalam hidup. “Dan itu juga yang membuat saya sangat menghargai Agama org lain,” katanya. Apa itu?

Dia pun mengisahkanya bahwa “Pada tahun 1996, saya harus mengikuti keluarga saya yang tugas kerja di Ternate, otomatis saya sekolah di sana waktu SD. Saat itu saya harus sekolah di tempat yang mayoritas beragama Muslim. Hanya 2 org yang bergama Kristen, dan saya salah satunya,” kata dia.

Tepatnya bulan desember thn 1997, tutur Rani,  sekolahnya mengadakan lomba keagamaan se-kota Ternate. Dan yang mengikuti lombanya ada 60 sekolah. “Pada saat itu saya jelas tidak masuk kriteria dalam pemilihan lomba tersebut, karena batasan Agama yang beda, maka wali kelas kami tidak mengikut sertakan,” kata dia.

Namun lanjutnya, ada kejadian tak diduganya, karena pada saat sehari menjelang perlombaan, teman kelasnya yang akan mengikuti lomba jatuh sakit. “Sehingga tidak ada perwakilan dari sekolah kami. Akhirnya mulai risaulah kepala sekolah dan guru-guru kami. Sehingga diadakanlah seleksi langsung di hari itu untuk menggantikan posisi teman saya yang sakit.”

Tak disangka, katanya, dia yang ditunjuk ikut dalam seleksi. “Dan herannya dari semua yang disuruh menghafalkan ayat Alquran dan puisi tersebut, saya yang dirasa lebih cepat menghafal dan menghayati akan puisinya. Dan benar saja, akhirnya saya dipilih mewakili sekolah,” kata penganut Kristen ini.

Sebelum mengikuti lomba, kepala sekolah datang ke rumahnya dan meminta ijin kepada org tua Rani yang kemudian disetujui, untuk ikut lomba kesenian Keislaman. “Saat mengikuti lomba itu, saya diharuskan memakai pakaian Muslim atau berhijab, dan guru saya pun memakaikannya,” cerita Rani.

Sampailah pada hari perlombaan. “Saya masuk dalam urutan ke 21, saya berdiri dengan kepercayaan diri dan tanpa ragu melantunkan ayat Alquran dan Puisi yang diperlombakan. Dalam hati kepala sekolah saya yang penting sudah ikut saja, menang pasti tidak mungkin,” tuturnya.

“Dan mujizat terjadi, pada saat pembacaan Juara, saya dan guru-guru semua kaget ketika nama saya dipanggil di panggung mendapatkan penghargaan juara 1 lomba baca puisi tingkat anak-anak dalam kegiatan keagamaan dan kesenian islam antar TPQ se-kota Ternate.”

“Kepala sekolah saya matanya terbuka besar dan heran, bahkan dia langsung ke meja juri dan menyampaikan bahwa saya beragama Kristen. Ternyata juri dan panitia tidak tau sama sekali, tetapi karena Ketua Jurinya mengatakan tidak bisa diganti, anak ini masuk dalam kriteria juara terbaik, karena paling lantang dan teratur dalam membacakan puisi tersebut,” kata Rani yang mengaku saat itu dia berdiri di depan ratusan guru-guru, murid dan masyarakat, dimana semuanya terheran-heran, ketika kepala sekolah sampaikan bahwa dirinya agama kristen.

“Sejak saat itulah, saya selalu menghargai agama lain. Menurut saya tidak penting seberapa tingginya jabatan kita dalam keagamaan, mau dia Pendeta, Haji, Habieb, Bhiksu, Pedanda, Romo, jiao Sheng… tetapi kalau tidak bisa menghargai agama orang lain, sama saja tidak Menghargai TUHAN yang menciptakan perbedaan,” pungkas Rani dalam akun facebooknya. (vil/*)