oleh

Ide Tuan Rumah KTT G-20, Sulut Lakukan Lompatan

IDE disertai upaya lobi Gubernur Olly Dondokambey agar Sulawesi Utara menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi negara-negara G-Twenty (KTT G20) tahun 2023, jika terwujud akan memberi dampak yang luar biasa bagi Bumi Nyiur Melambai. Ide ini dinilai akan menjadi lompatan besar Sulut sebagai sebuah daerah yang masuk dalam 5 super prioritas pariwisata nasional.

Akademisi Fakultas Ekonomi Unsrat, Fitty Valdi Arie, SE, MBA kepada Komentaren mengatakan, menjadi tuan rumah iven internasional sekelas G-20, salah satu manfaat yang diperoleh adalah menjadi sarana strategis mengekstrapolasi kepentingan Nasional melalui diplomasi Ekonomi.

“Selanjutnya untuk Sulut sendiri menurut hemat saya, salah satu manfaat dari penyelenggaraan G-20 nanti, bukan hanya untuk meningkatkan perekonomian secara skala mikro, tetapi lebih ke arah pengembangan berbagai sektor seperti pariwisata, perdagangan, pengembangan kualitas SDM di era digitalisasi 4.0. Akan banyak manfaaat ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan tersebut, asalkan setiap negara yang berpartisipasi mempunyai komitmen untuk menerapkan hasil yang didaptkan,” kata alumnus S2 UGM Jogja ini.

Dia menambahkan, fokus dari G20  ini adalah mendorong optimalisasi pendapatan negara melalui kerjasama antar negara dalam mengantisipasi persaingan ekonomi global melalui transformasi di semua aspek perekonomian. Sebagi contoh KEK nanti, kata dia, bisa saja menjadi salah satu kawasan yang dibidik oleh negara anggota G20 untuk berinvestasi dan sekaligus menjadi katalis aglomerasi ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan daerah, memperkuat infrastruktur daerah, dan lainnya.

Fitty Arie menambahkan, sebagai tuan rumah pertemuan internasional sekelas G20, pembangunan infrastruktur di Sulut tentunya akan dipacu lebih cepat oleh pemerintah pusat. Bahkan infrastruktur tambahan akan diberikan, selain infrastruktur yang sudah dianggarkan sejak 2019 untuk Sulut. “Pasti akan ada penambahan infrastruktur, karena menjadi tuan rumah G20 ada syarat-syarat fasilitas yang ditentukan. Seperti halnya untuk akses dan transportasi. Bisa saja dihadirkan MRT dari bandara ke lokasi pertemuan. Itu bisa diminta dibangun jika menjadi tuan rumah G20, dan waktunya masih memungkinkan untuk kegiatan 2023 depan.

“Dulu saja waktu pertemuan WOC dihadirkan bus station,” tukas Fitty. Namun dia mengharapkan, fasilitas seperti itu harus dirawat dan berkontinuitas. Jangan setelah kegiatan, dibiarkan seperti halnya sejumlah bus station di Manado yang kini dibiarkan dan tidak difungsikan. Di sisi lain, dia melihat jika Sulut jadi tuan rumah KTT G20, praktis akan menjadi pusat perhatian dunia.

“Karena yang datang bukan saja menteri ekonomi dan keuangan serta gubernur-gubernur bank sentral dari anggota G20, tapi juga para kepala negara masing-masing. Dan selain itu, akan datang wartawan dari berbagai dunia untuk meliput pertemuan G20. Tentunya mereka juga akan menulis tentang Manado atau Sulut selaku tuan rumah. Sebab itu, sektor pariwisata harus juga menangkap peluang besar ini,” katanya.

Sedangkan dari aspek kemampuan, dia yakin Sulut bisa menjadi tuan rumah, apalagi berbagai pertemuan kelas dunia sudah pernah dilakukan di daerah ini. Yang terbaru, Sulut sukses menggelar pertemuan AIS Forum. “Dan kalau soal lobi, kemampuan Pak Gubernur Olly sudah tidak diragukan lagi. Kalau sudah lontarkan ide tersebut, saya yakin Pak Olly sudah melakukan pembicaraan di elit pusat. Bersyukur Sulut memiliki leader seperti Pak Olly yang memiliki lobi kuat ke pusat,” tandasnya.

Dia mengharapkan ide brilian ini bisa terwujud, karena multiplier effect untuk pembangunan dan perekonomian Sulut akan sangat dirasakan oleh masyarakat. “Sebab itu masyarakat Sulut juga harus menunjangnya,” katanya.

Wacana tuan rumah G20 ini terungkap dari Gubernur Olly Dondokambey ketika memimpin rapat koordinasi bersama Dinas PU/PR, Balai Sungai dan Cipta Karya di kantor Dinas PU/PR Pemprov Sulut di Tikala Manado, Rabu (20/11/2019) lalu. Rakor tersebut terkait pembahasan dan persiapan percepatan sejumlah infrastruktur strategis yang ada di daerah ini.

“Karena Gubernur lagi melobi ke pemerintah pusat supaya pertemuan KTT G2O tahun 2023 bikin di Sulawesi Utara,” kata Gubernur Olly usai gelar rakor tersebut. Menurut Olly, pertemuan G20 dan Sulut menjadi tuan rumah direncanakan digelar tahun 2023. Oleh sebab itu berbagai persiapan penunjang pembangunan harus segera diselesaikan. “Proyek lokasi jalan harus disiapkan, begitu juga hotel baru dekat pertemuan. Itu semua harus ada,” tukas Olly seraya menambahkan, jika hal ini terwujud, akan banyak dampak positif dialami Bumi Nyiur Melambai. “Manfaatnya banyak Sulut lebih dikenal di dunia, pariwisata meningkat, investasi tambah banyak,” tandas gubernur .

Seperti diketahui pertemuan puncak KTT G20 tahun 2019 baru saja digelar di Osaka Jepang Juni 2019 lalu. Dalam pertemuan itu hadir Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dari dua Negara penguasa ekonomi dunia.

Seperti diketahui, G-20 atau Kelompok 20 ekonomi utama merupakan kelompok negara dengan perekonomian besar di dunia yang ditambah Uni Eropa.

G-20 dinamakan Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors. Ini adalah kelompok Duapuluh (20) Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral yang dibentuk 1999. Grup ini menjadi sebuah forum yang menghimpun kekuatan-kekuatan ekonomi negara maju dan berkembang, serta membahas isu-isu perekonomian dunia. Anggota G-20 meliputi Perancis, Kanada, Italia, Jerman, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Brazil, Cina, India, Meksiko, Korea Selatan, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Turki, serta Indonesia. (rik/sbr)