oleh

Covid-19 dan Homo Sapiens

Banwas

SEJARAH mencatat kita adalah Homo Sapiens atau “Manusia Cerdas”. Dulu ada banyak spesies dari genus homo, tapi hanya sapiens yang bertahan hidup sampai saat ini.

Konon dulunya ada spesies yang jauh lebih besar dan kuat dari sapiens, tapi mereka malah punah. Bahkan banyak binatang purba dengan ukuran raksasa dan sangat kuat fisiknya, juga raib di telan bumi.

Sapiens tidaklah besar-besar amat, namun mampu eksis dari berbagai bencana, wabah dan berbagai peristiwa alam lainnya yang memusnahkan mahluk hidup secara massal.

Lalu apa yang membuat sapiens bisa bertahan sampai skarang? Bahkan menjadi spesies yang paling berkuasa di muka bumi ini?

Menurut Sejarawan Futuris, Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Sapiens”, itu karena adanya kognitif dan ikatan kebersamaan.

Kognitif adalah potensi intelektual. Intelektual ini memampukan kita memiliki pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (application), analisa (analysis), sintesa (sinthesis) dan evaluasi (evaluation).

Dulu waktu homo sapiens ‘head to head’ dengan homo neanderthalensis yang memiliki postur raksasa, kita awalnya kalah bersaing, bauk dalam berburu dan memperebutkan wilayah buruan. Sapiens kalah kuat dan kalah postur.

Ini membuat sapiens harus bersembunyi di gua-gua. Berkumpul dalam waktu lama.

Namun dalam persembunyiannya, sapiens banyak belajar, mengamati dan mepakukan analisa, evaluasi dan aplikasi tentang bagaimana cara bertahan hidup dan merespons alam sekitar.

Bahkan mampu menciptakan bahasa tersendiri dan menciptakan  panduan ‘normatif kelompok. Termasuk mempelajari kelebihan dan kelemahan Neanderthal.

Alhasil, ketika diperoleh pengetahuan dan pemahaman, Sapiens mulai berani kaluar dari persembunyiannya, dan berhadapan dengan neanderthal. Sampai akhirnya neanderthal yang tersingkir, bahkan spesies itu malah punah hingga saat ini.

Begitu juga ketika dari masa ke masa, kita mampu melewati berbagai wabah penyakit menular. Senjata utama kita adalah kognitif dan kebersamaan. Kecerdasan dan karakteristik sebagai mahluk sosial, adalah kekuatan besar kita “para sapiens”.

Saat ini kita menghadapi Covid-19. Sebuah wabah baru yang disebut-sebut setara fatalnya dengan flu spanyol 1918.

Virus ini bahaya utamanya, karena menyerang potensi besar kita sebagai mahluk sosial yang suka berkumpul. Melawan Covid-19, kita harus psychal distance. Anti kumpul-kumpul.

Menariknya, dalam upaya melawannya, cara yang sama dengan era purba (ribuan tahun silam) dan era ‘flu spanyol’ (1918) kembali dilakukan.

Kita kembali mengurung diri. Bersembunyi. Di zaman purba kita “masuk gua”, dan sekarang kita “stay at home”. Bahkan disertai “lockdown”.

Intinya ini adalah teknik mengulur waktu untuk kembali belajar atas wabah ini, sambil mencegahnya lebih parah.

Stay at home adalah bagaimana kita awalnya ‘bersembunyi’ sambil mengamati, belajar, menganalisa serta mengevaluasi dengan segala potensi intelektual dalam ikatan kebersamaan (kognitif ikatan kebersamaan).

Orang Indonesia sampai di seluruh dunia, saling berbagi tentang bagaimana memahami kelemahan dan kekuatan lawan (Covid- 19). Dan itu tersebar dgn cepat lewat fasilitas internet.

Akhirnya lewat kognitif dan ikatan kebersamaan, kita mengeluarkan panduan-panduan penanganan dan pencegahan Covid-19. Mulai dari skala internasional lewat who, skala pemerintah pusat sampai daerah.

Kini, kita tidak lagi harus bersembunyi. Lama bersembunyi akan meruntuhkan ekonomi kita. Saatnya kita keluar ‘gua’. Kita harus menghadapi era new normal ini, dengan tentunya mempersiapkan protokol kesehatan.

Kita adalah sapiens yang sudah teruji mampu melewati dan bertahan di berbagai kesulitan dan bencana dari masa ke masa.

Kita memiliki kognitif. Mari gunakan ‘gen’ yang sudah tertanam dalam diri kita, manusia yang cerdas. Mari kita bekerjasama dalam protokol kesehatan, karena itu aset sapiens yakni ikatan kebersamaan.

Kebersamaan adalah kekuatan utama yang sudah teruji ribuan tahun lamanya. Dari zaman sapiens purba sampai modern ini.

Memang akan ada yang jadi korban sampai vaksin ditemukan. Tapi badai pasti berlalu.

Para “sapiens” di era ini akan tetap survive untuk memasuki era dengan kebiasaan baru. Kita akan melewati badai corona ini, meski nantinya hidup kita tidak akan sama lagi di masa sebelum pandemi. (friko poli)