oleh

Ganas Saat Tikam Guru, FL Dicurigai Pengguna Zat Adiktif

AKSI ganas dan brutal FL (16), seorang siswa SMK di Manado yang melakukan penikaman berkali-kali terhadap gurunya, Alexander Pangkey (54) sehingga tewas, mendapat tanggapan Kepala BNN (Badan Narkotika Nasional) Kota Bitung, dr Tommy Sumampouw.

Menurut Sumampouw, dari cara tersangka melakukan aksinya yang terlihat tidak memiliki empati sama sekali dan terkesan ganas, padahal sang guru sudah memohon dan menyebut nama Tuhan, menunjukkan adanya kecurigaan bahwa FL mengalami emosi perilaku otak yang terganggu.

Sumampouw mengatakan, kalau cuma dipengaruhi minuman keras (miras), apalagi dikonsumsinya sehari sebelumnya, tidak akan seperti itu perilaku FL. “Orang yang melakukan penikaman biasanya sekali lakukan dan melihat korbannya sudah tak berdaya, pasti akan langsung lari. Tapi jika melihat videonya, tersangka terlihat melakukan dengan ganas dan agresif. Bukan tidak mungkin FL pernah mengkonsumsi zat adiktif yang telah merusak otaknya,” ungkap Sumampouw.

Zat adiktif itu, di antaranya obat keras yang dilarang dijual bebas dan perilaku ngelem yang lagi ‘trend’ di kalangan anak remaja saat ini. “Zat adiktif itu memicu emosinya terganggu dan merusak awareness (kesadaran) otak jika dia sudah sering mengkonsumsinya,” tukasnya.

Orang yang kerap mengkonsumsi zat adiktif, lanjut Sumampouw, dalam waktu tertentu akan mengalami perubahan perilaku karena zat itu merusak sistem limbik otak,” urainya.  Sistem limbik adalah himpunan struktur otak yang terletak pada kedua sisi talamus, tepat di bawah serebrum. Sistem limbik juga mengacu pada korteks paleomamalia. Sistem limbik mendukung berbagai fungsi seperti emosi dan perilaku.

Saat ini, kata dia, sudah banyak ditemukan remaja yang bukan saja ngelem dan minum obat keras, melainkan sudah mencampur keduanya. “Ada beberapa kasus mereka mencampur lem dengan cap tikus, atau dengan obat keras terlarang. Ini sangat berbahaya,” katanya sembari mengatakan, trend di kalangan pengguna sekarang, sudah lebih ‘berkualitas’ (negatif) cara mereka mengkonsumsi zat adiktif.

Ketika ditanyai bahwa obat keras sekarang tidak sembarang dijual bebas, apalagi untuk anak di bawah umur, Sumampouw mengatakan bisa saja mereka menyuruh orang dewasa untuk membelinya dengan imbalan. Yang pasti dampak zat adiktif yang mulai banyak dikonsumsi remaja, bahkan anak-anak saat ini, akan mempengaruhi bukan saja kesehatan tubuh mereka, namun juga merusak otak yang akan mempengaruhi perilaku emosi mereka. (sbr/rik)