oleh

Filosofi Pion dan Kuda ala Sinyo Harry Sarundajang

SOSOK DR. Sinyo Harry Sarundajang (SHS) telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Jejak karir dan prestasinya, dari seorang birokrat sekelas Sekda, menjadi kepala pemerintahan di berbagai daerah, bahkan birokrat tinggi di Depdagri (Irjen), sampai kemudian menjadi Duta Besar hingga hayat menjemput, melahirkan banyak kisah menarik tentang riwayatnya.

Saya termasuk beruntung bisa mengenalnya sejak masih menjabat Walikota Bitung hingga Duta Besar. Sebagai mitra seorang jurnalis, SHS tak hanya “news maker” yang produktif, tapi beliau kerap menjadi mentor yang banyak memberi pelajaran tentang kehidupan, terutama dalam pemerintahan dan politik.

Dan kepiawaiannya tak diragukan lagi. Jejak digital dan jejak memori para birokrat dan politisi di Sulut pasti punya banyak kisah hebat tentangnya. Dari sekian banyak great story tentang SHS, saya memilih angle sedikit lain. Yakni tentang salah satu hobinya. Bermain catur !

Semasa hidup, kami pernah bermain catur berhadapan. Namun kisah ini bukan soal permainan kami waktu itu. Inspirasi kisah ini ketika saya teringat sebuah diskusi kecil dengannya di rumah dinas. Di akhir pembicaraan dia nyeletuk “Kapan-kapan ngana datang torang bacerita sambil main catur,” katanya.

Saya pun menyahut, “Pak Gubernur kenapa suka sekali main catur?.”   Sambil tersenyum dia mengatakan “Catur itu permainan strategi. Filosofinya juga sangat banyak,” katanya. Saya pun tergelitik untuk menggali filosofi yang disebutkannya. “Contohnya Pak?.”

Dia kemudian mengurai tentang bidak pion, yang awalnya kecil, namun karena berani maju ke depan, pion itu bisa menjadi menteri. Begitu juga langkah kuda, katanya, kadang mengancam bidak lain, tapi yang dibidiknya bidak lain. “Dalam politik dan pemerintahan seperti itu juga,” katanya.

Saya pun mengangguk. Masih ingin bertanya, tapi dia kemudian menambahkan “nanti torang bicara banyak, masih banyak tamu di luar,” katanya. Saya pun pamit namun masih penasaran dengan filosofi menarik yang dikaitkannya antara catur dengan birokrat dan politik.  

Tahunan berlalu. SHS pun mengakhiri periode jabatan Gubernur Sulut. Sampai kemudian dia menjadi Duta Besar. Kami pernah bertemu beberapa kali, tapi tidak lagi membahas catur, apalagi bermain bersama.   

Dan kini SHS telah berpulang. Kisah perjalanan karirnya, menjadi cerita menarik untuk mengenang jejak hebat seorang birokrat dan politisi kawanua yang mampu menembus kancah nasional dan internasional.

Entah kenapa, di saat banyak membaca ucapan-ucapan duka tentangnya di media sosial, saya teringat kembali cerita singkat tentang filosofis catur “pion dan kuda” ala SHS. Hal itu terbersit ketika membaca sejumlah artikel tentang karir SHS yang dimuat sejumlah media online.  Terutama jejak karirnya yang memulai dari seorang PNS biasa dan menjadi sekda dan kemudian berkiprah di Depdagri. Kisah lainnya yang saya baca, SHS merupakan salah satu putera kawanua yang pernah mencalonkan diri sebagai capres di konvensi Partai Demokrat.

Dari artikel itu, saya kaget. Ternyata kisahnya tentang bidak pion dan kuda merupakan bagian dari biduk karirnya dalam meniti tugas sebagai birokrasi dan sepak terjang politiknya.

SHS laksana seorang pion yang memulai karir birokrat dari bawah yang maju terus hingga menjabat Irjen Depdagri dan seabrek posisi kepala daerah, hingga kemudian menjadi duta besar. Dari pion kita diajarkan bahwa kedudukan tinggi bisa kita raih asal kita berani untuk maju dengan langkah terukur.

SHS juga laksana memainkan bidak kuda, ketika mengikuti konvensi Capres dari Partai Demokrat. Saya pernah mengikuti kampanyenya ketika ikut konvensi di Balikpapan. Saat di sana saya bertanya, kenapa ikut konvensi padahal peluangnya hampir tidak ada, mengingat banyak tokoh nasional yang ikut.

“Saya tahu bahwa saya tidak akan terpilih sebagai Capres bahkan Cawapres sekalipun. Tapi lewat konvensi ini, saya ingin menyampaikan gagasan buat bangsa dan Negara tentang blue economy. Saya tidak akan terpilih, namun setidaknya gagasan saya ini bisa dipakai calon yang terpilih menjadi presiden dan wakil presiden,” katanya waktu itu.

Dan memang benar, konsep blue economy yang menekankan pentingnya pengelolaan laut berkelanjutan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi kemakmuran rakyat, dijadikan salah satu konsep pembangunan Presiden SBY.

SHS bak langkah kuda, seakan membidik “ingin menjadi capres” namun sebenarnya sasaran yang ditargetnya adalah agar gagasannya didengar. Dan ruang “konvensi capres” yang menjadi makanan pers nasional, dijadikannya panggung untuk gagasan blue economynya tersebut.

Kini di era Presiden Jokowi, ketika Indonesia sedang bergulat dengan pandemi Covid-19, Pemerintah kembali mendengungkan pemberdayaan potensi blue economy. Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Safri Burhanuddin dalam acara International Maritime Webinar Series mengatakan, sejumlah negara termasuk Indonesia, kini tengah melakukan berbagai kebijakan dalam memulihkan perekonomian akibat pandemi COVID-19 atau Virus Corona, salah satunya dalam sektor Blue Economy (Ekonomi Biru).

Pernyataan Burhanuddin ini mengingatkan saya tentang ‘langkah kuda’ seorang SHS. “Pak Sarundajang, filosofimu ini ibarat ‘blind catur’ yang kita mainkan, dan saya baru menemukan maksudnya ketika kau meninggalkan dunia ini untuk selamanya.”

Rest in Christ’s Love, DR. Sinyo Harry Sarundajang …

(friko poli)