oleh

Dari Kampung Kriminal Brasil Hingga Tiba di Manado

Favela sangat terkenal di Brasil. Favela adalah pemukiman kumuh yang kerap menjadi sarang berbagai kriminal. Saking terkenalnya, kehidupan di Favela difilmkan Holywood dengan judul “City of God” pada 2002. Film tersebut mengambil setting of place di Favela Cicade de Deus di Rio.

Berbagai julukan disematkan bagi Favela. Dan bagi penduduk local, Favela dijuluki sebagai ‘Jalur Gaza’ di Brasil. Itu karena kekerasan yang terjadi di sana. Jaksen Tiago yang kini melatih Persipura dan akan banyak bermukim di Manado sebagai homebase, merupakan sosok pria yang tumbuh di Favela.  “Saya besar di favela alias pemukiman kumuh di Brasil,” ungkap Tiago seperti dilansir CNNIndonesia.

Meski tumbuh di lingkungan keras dan daerah criminal, Jacksen mampu melewati segala suka-dukanya dan berhasil menjadi sosok yang sukses di negeri jauh dari Brasil, Indonesia. Kini Jacksen tiba di Manado yang disebutnya sebagai kota yang diberkati, setelah sebelumnya mengagumi keberadaan Patujng Yesus Memberkati yang berdiri di kawasan Winangun Citraland.  

“Saya jujur tidak pernah membayangkan bisa sukses di Indonesia. Segala yang dicapai di sini melampaui harapan saya. Rasa hormat yang saya dapat di sini begitu luar biasa, ke manapun saya pergi. Jika diibaratkan saya sudah seperti bintang besar semacam Ronaldo Nazario di Brasil,” kata Jacksen.

Track suksesnya ketika berada di Indonesia, dimulai ketika dia sebagai pemain berhasil mengantarkan Persebaya Surabaya juara Liga Indonesia musim 1996/1997. Jacksen terkenal setelah menjadi top skor waktu itu.

Seusai pensiun sebagai pemain, Jacksen beralih sebagai pelatih. Hebatnya, di tangan ‘Favela Boy’ ini, Persebaya satu kali juara dan Persipura tiga kali menahbiskan diri sebagai tim terbaik di Indonesia. Jacksen pun menceritakan bahwa dia sampai ke Indonesia, secara tak terduga. Dia yakini itu sebagai rencana Tuhan yang indah.

“Saya kali pertama menginjakkan kaki di Indonesia pada 1994 melalui jalan yang sebenarnya tidak disengaja. Awalnya saya bersama beberapa pesepakbola asal Brasil lain ditawari seorang agen untuk bermain di Malaysia. Saat itu saya sudah 24 tahun dan sudah berkeluarga pula. Ketika tawaran itu datang, saya berpikir ini kesempatan yang besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Hal ini penting karena saya bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan. Saya besar di favela alias pemukiman kumuh di Brasil,” kisahnya.

Lanjutnya “Akhirnya saya membulatkan tekad berkarier di Malaysia, sebuah negeri yang sangat jauh dari kampung halaman saya. Uniknya ketika tiba di Singapura, agen asal Rumania yang mengajak saya bersama beberapa pesepakbola Brasil lainnya malah mengatakan: “Kalian nanti akan main di Indonesia, bukan Malaysia.”

Begitu mendengar pernyataan tersebut yang terlintas di pikiran saya hanya satu hal, saya harus bertahan di mana pun saya nanti bermain karena ini demi keluarga. Meskipun saya datang ke sebuah negara yang tidak pernah saya tahu sebelumnya.

Dari delapan pemain yang dibawa saat itu hanya ada lima pemain yang memutuskan mau bermain di Indonesia. Termasuk saya dan Carlos de Mello yang akhirnya sama-sama memperkuat Petrokimia Putra di Liga Indonesia I. Motivasi saya berkarier sampai ke Indonesia tentu karena alasan ekonomi, apalagi di Brasil sedang krisis ekonomi. Mata uang Brasil nilainya terus turun sedangkan di Indonesia, saya dan semua pemain asing dapat bayaran dolar AS.

Harus diakui saat kali pertama datang ke Indonesia saya kaget. Tetapi saya berpikir tidak ada yang lebih berat dari kehidupan di favela. Saya hanya berujar dalam hati, “Mau seburuk apapun di Indonesia, tidak ada yang lebih berat daripada kehidupan di favela.”

Kini Jacksen berada di Kota Manado. Dia berharap bisa membawa Persipura dari Kota Manado. Kota Manado yang diberkati, kata Jacksen, akan membawa berkat bagi Persipura untuk mendulang sukses di Liga 1 musim 2020 ini. Welcome to Manado, Jacksen !! (sbr/kim)