oleh

Ekonomi Sulut Tumbuh di Tengah Pandemi, Olly Gaungkan Marijo Bakobong

GERAKAN bertanam (bakobong) yang selalu digaungkan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey, terutama di masa pandemi dalam menjaga ketahanan pangan, membuahkan hasil sekaligus takjub. Bahkan Presiden Jokowi pun kaget ketika mengetahui pertumbuhan ekonomi di Sulut 4,2 persen di tengah pandemi, padahal di daerah lain sudah minus. 

“Kita bersyukur karena semester 1 pertumbuhan ekonomi kita sangat baik yakni 4,2 persen. Kemarin saya laporkan ke Pak Presiden Jokowi, Presiden juga bingung karena pertumbuhan ekonomi (Sulut) masih 4,2 persen sedangkan daerah lain sudah minus,” ungkap Gubernur Sulut Olly Dondokambey dalam kunjungan kerjanya di Kota Kotamobagu dan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Senin (20/07/2020).

Gubernur Olly meyakini, kemampuan ekonomi Sulut yang mampu bertumbuh padahal diprediksi akan minus di tengah pandemi, itu karena dukungan sektor pertanian di Sulut yang terus menggeliat, dimana industri berbasis pertanian terus berjalan.

Tak berlebihan, jika Gubernur Olly terus mengajak warga Sulut untuk terus memanfaatkan lahan tidur, menjadikannya lahan produktif dengan berbagai komoditi pertanian dan perkebunan. Gaung itu juga terlihat ketika Gubernur Olly bersama istri tercinta Ketua TP PKK Sulut Ibu Rita Tamuntuan mencanangkan gerakan “mari jo bakobong” dan melakukan panen bawang serta mensosialisasikan Pergub Sulut No. 44 tahun 2020 tentang Pedoman Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman (AKB M2PA) Covid-19.

Di tanah Totabuan, Olly memuji dan memberi apresiasi atas hasil panen bawang di Kotamobagu yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani. “Tadi kita panen bawang. Itu sangat baik sekali. Rata-rata saja 10 ton per hektar. Kalu 10 ton depe harga Rp50 ribu, 1 hektar Rp500 juta. Potong biaya tanam, biaya bibit dan segala macam paling kurang Rp150 juta. Jadi masih bisa dapat Rp350 juta per hektar dalam waktu 60 hari,” katanya mengurai.

“Dalam waktu 60 hari atau 2 bulan kalo 1 hektar itu ada 10 orang, tinggal dorang berbage berapa dorang pe penghasilan 1 bulan,” kata Olly. Selain itu, hal penting lainnya menurut Gubernur Sulut ini, ketersediaan komoditi bawang dan tanaman pangan lainnya ini, akan mampu menekan inflasi sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi Sulut di tengah pandemi Covid-19.

“Ini sangat mendorong, karena kadang-kadang kalo inflasi nae, torang kirim kamari bawang dari Brebes kirim kamari. Jadi kebutuhan bawang di Sulut dengan apa yang kita tanam sekarang, masih bisa beking dabu-dabu, karena kebutuhan bawang di Sulut sangat baik, sangat banyak karena juga permintaan dari luar Sulut, misalnya dari Maluku Utara, dari Papua,” tandas Olly.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Olly tak ketinggalan untuk mensosialisasikan Pergub Sulut No 44 tahun 2020 tentang Pedoman AKB M2PA Covid-19, sekaligus meminta warga disiplin mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.

“Pemprov Sulut sudah mengeluarkan Peraturan Gubernur kemarin atas adaptasi kehidupan baru menuju masyarakat yang produktif. Artinya kita harus menerima situasi kondisi saat ini yang lagi Covid-19. Virus tetap ada, tapi kehidupan kita masyarakat yang produktif tidak boleh mati karena virus,” katanya seraya menambahkan, dalam pergub 44/2020 sudah mengatur panduan dalam beraktivitas. (hms/sbr)