oleh

Batu dan Gas Air Mata Warnai Demo Mahasiswa di DPRD Sulut

GELOMBANG demo mahasiswa di sejumlah daerah yang menolak sejumlah RUU dan disahkannya UU Revisi KPK, menjalar sampai di Manado. Sekitar Pukul 10.30 WITA kemarin (25/09), ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sulut, berunjukrasa di Kantor DPRD Sulut. Demo ini diwarnai aksi lempar batu mahasiswa yang dibalas semprotan gas air mata dari polisi.

Aksi mahasiswa di Kantor Dewan yang terletak di Kairagi itu, awalnya tenang. Massa mahasiswa datang hanya berorasi sambil membawa berbagai spanduk dengan tulisan-tulisan mengkritik DPR. Namun massa sempat emosional ketika mereka tidak diperkenankan masuk ke halaman dalam kantor dewan.

Mereka tertahan di luar pagar dengan penjagaan polisi yang lengkap dengan atribut anti huru-hara.  Sejumlah legislator yang ada, di antaranya Victor Mailangkay, Amir Liputo, Fabian Kaloh, Sandra Rondonuwu, Andi Silangen, Ivan Lumentut, Braien Waworuntu, Yusran Al Habsy, Melky Pangemanan, Richard Sualang mencoba menenangkan dan meladeni para pendemo di luar pagar.

Dan dialog sempat berlangsung antara para pendemo dan legislator. Namun tak disangka, di gerbang sebelah kanan kantor dewan, para mahasiswa yang ingin masuk ke dalam halaman kantor dewan, mulai merangsek dengan mencoba menggoyang gerbang. Polisi mencoba terus menghadang, namun mahasiswa berhasil merobohkan gerbang.

“Kami ingin masuk ke rumah rakyat, kami ingin temui wakil rakyat,” teriak mahasiswa seiring ambruknya gerbang.

Kericuhan pun terjadi. Apalagi dari arah mahasiswa mulai melakukan pelemparan ke gedung DPRD. Bahkan sempat memecahkan kaca gedung DPRD. Melihat massa bertindak anarkis, polisi langsung menembakkan gas air mata.

Semprotan gas air mata itu membuat kelompok mahasiswa kocar kacir. Sejumlah polisi sempat mengejar para pendemo yang melakukan perusakan dan melempar batu. Aksi kejar-kejaran itu sampai di jalanan depan kantor wakil rakyat tersebut.

Namun untunglah selang 5 menit, suasana terkendali dan polisi akhirnya memperkenankan para mahasiswa masuk dalam halaman kantor dewan. Mereka kemudian berorasi sambil mengajukan tuntutannya.

“Kami ingin DPRD Sulut menandatangani tuntutan kami dan menindaklanjuti berbagai aspirasi antara lain, soal penolakan Revisi UU KPK, RUU KUHP dan lainnya,”teriak mahasiswa.

Di halaman kantor DPRD, anggota Dewan langsung merespons dan membacakan hasilnya, yakni mendukung dan berjanji akan memperjuangkan aspirasi mahasiswa tersebut ke pusat. “Kami menyetujui semua tuntutan mahasiswa sesuai aturan yang berlaku dan akan kami sampaikan aspirasi mahasiswa ke DPR-RI,” ucap para legislator. Setelah tuntutan mereka diterima baik DPRD, para mahasiswa akhirnya membubarkan diri dengan tertib.

Namun sejumlah mahasiswa sempat berselfie dan welfie ria di halaman kantor dewan dengan berbagai tulisan di karton. Bahkan tak sedikit yang bercengkerama santai dengan petugas keamanan dari pihak kepolisian.

Secara terpisah, para anggota dewan meski mengaku nyaris kena lemparan batu dan turut ‘merasakan’ imbas gas air mata mengaku tetap enjoy.  “Hampir kena batu. Gas airmata ikut terasa. Tapi kami enjoy saja,” tukas legislator Sulut dari PDIP, Fabian Kaloh.

“Saya ini sudah biasa menerima demo saat di Bitung. Sebenarnya tak masalah, sampaikan aspirasi secara elegan, kita berdialog, janganlah anarkis,” tutupnya. (mon/*)