oleh

Adriana Dondokambey Pertanyakan Isu “Senjata Biologis” Corona

Anggota Komisi VII DPR RI Adriana Dondokambey mempertanyakan kecepatan penyebaran virus Corona. Apakah hasil rekayasa manusia atau senjata biologis.

Pasalnya, ada budaya atau kebiasaan masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Tomohon yang masih mengonsumsi hewan liar seperti kelelawar yang sempat dikaitkan dengan wabah virus Corona.

Hal tersebut ditanyakan langsung oleh Adriana kepada Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) Amin Soebandrio, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI dengan LBME yang turut dihadiri oleh para peneliti LBME di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (17/02/2020).

 “Apakah kecepatan penyebaran virus ini merupakan hasil rekayasa manusia atau senjata biologis. Sebab, jika memang berasal dari konsumsi hewan liar sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian ahli, seharusnya sudah sejak lama masyarakat Tomohon terinfeksi virus ini. Karena sejak nenek moyangnya, masyarakat Tomohon memakan hewan-hewan liar seperti kelelawar, biawak dan ular. Tapi hingga kini belum ada masyarakat di Tomohon dan sekitarnya yang terinfeksi virus Corona,” ujar Adriana dilansir dpri.go.id.

 Menjawab hal tersebut, Direktur LBME Amin Soebandrio mengatakatan bahwa memang banyak teori konspirasi yang mempertanyakan hal tersebut. Namun pihaknya belum meneliti secara ilmiah tentang kemungkinan virus Corona merupakan hasil rekayasa manusia atau senjata biologis. Pihaknya pun tidak dalam posisi menjawab hal tersebut.

 Terkait penyebarannya yang cepat, ia mengatakan masa inkubasi virus tersebut yang begitu cepat, yakni 14 hari. Bahkan informasi terakhir sebanyak 21 hari.  Selain itu, banyak yang tertular tidak sakit, dalam arti mereka masih bisa berpergian ke kota atau daerah lain. Kalau pun ada yang sakit, sebagian itu tidak sakit berat berat, jika berat sebagian ada yang tidak sampai meninggal. Hal itulah yang menyebabkan virus itu begitu cepat penyebarannya.

 Sementara terkait dengan budaya mengonsumsi hewan-hewan liar, Amin mengakui bahwa kebiasaan tersebut memang sudah berlangsung turun temurun di Sulawesi Utara, khususnya Tomohon. Namun belum ada laporan bahwa virus Corona dari Wuhan tersebut ada di Tomohon. Meski di sana banyak dikunjungi turis China, bahkan ada pasar ekstrim yang menjual hewan-hewan liar juga.

 “Studi yang dilakukan teman-teman di sana untuk mempelajari kandungan virus di pemburu hewan liar tersebut, pedagang, perantara sampai di konsumen. Didapati hanya dua kasus yang terkena virus, itupun hanya virus yang menyebabkan influenza, bukan virus Corona. Namun kami mengusulkan ke Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) ke depan, Sulut dapat menjadi salah satu tempat survei tentang Corona ini,” paparnya. (dpr)