oleh

Konstan 16 Kasus, Covid-19 di Sulut Masuki Masa Puncak?

HARI (28/05/2020) ini, kembali terjadi penambahan 16 kasus baru pasien positif Covid-19 di Sulawesi Utara dengan total akumulatif menjadi 297 kasus. Meski jumlah terus bertambah, namun ada fenomena yang cukup menggembirakan dengan data yang diupdate dalam dua hari terkahir.

Jubir Satgas Covid-19 Sulut lewat video conference Kamis (28/05) mengungkapkan, selang dua hari terakhir, yakni kemarin (27/08) dan hari ini, jumlah penambahan kasus masing-masing 16 terkonfirmasi positif, memperlihatkan jumlah yang makin konstan.    

“Kami harapkan mulai ada tanda-tanda pendataran (flat jumlah kasus) dari kasus ini. Karena sebelum terjadinya pendataran dari kurva demografik, tentunya kita belum bisa harapkan banyak akan terjadi penurunan. Kita harapkan ini menjadi jadi indikasi awal secara epidemilogik, Provinsi Sulut sudah memasuki masa-masa puncak,” ungkapnya.

Meski begitu, aku Dandel, pihaknya tidak akan terlena dengan situasi tersebut. “Tidakan pressing kontak, mencari resiko tinggi, dan tetap aktif di lapangan (mencari orang terkonfirmasi, red), sehingga update kasus betul-betul memperlihatkan kondisi epidemiologis sebenarnya, bukan karena penurunan aktivitas (pencarian kasus) di lapangan. Jangan sampai di data terlihat menurun, namun fenomenanya tidak demikian,” katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya terus mendistribusikan semua perangkat untuk lakukan swab tetap berlangsung. “Kita jangan kendor dan tetap terus perluas (pencarian kasus). Dandel menegaskan, pihaknya ingin kasus yang diupdate per hari, betul-betul secara real epidemologik di lapangan. “Bukan krn fenomena gunung es,” katanya.

Saat ini pihaknya ingin menangkap sebanyak mungkin, mendeteksi sebanyak mungkin kasus di masyarakat. Dengan begitu, pihaknya akan mampu ‘memaintain’ kasus-kasus tersebut. “Sebab jika tidak berhasil menangkap kasus-kasus tersebut, mereka akan menjadi sumber penularan (di masyarakat) dan penyebarannya makin meluas.”

Yang diharapkan, katanya, fenomena di lapangan menjadi clear dan jelas, dan bukan terjadinya fenomena gunung es, dimana data yang terungkap hanya pucuknya saja sementara kasus di lapangan banyak.

Terkait tugas ini, kata Dandel, bukan semata pekerjaan surveilance di tingkat Provinsi Sulut, namun harus berkolaborasi dengan kabupaten/kota. “Kita harus solid bekerjasama untuk menangkap dan mendeteksi kasus-kasus ini,” tukasnya. (vil/sbr)